Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ancaman La Nina, BPBD Jabar Petakan Daerah yang Berpotensi Bencana

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jabar Dani Ramdan mengatakan pihaknya sudah melakukan antisipasi usai BMKG memprakirakan Indonesia pada umumnya masuk dalam fenomena La Nina.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  13:16 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, BANDUNG — Bagaimana kesiapan Jawa Barat menghadapi ancaman La Nina usai BMKG memberikan peringatan akan terjadi dalam musim penghujan akhir 2020 hingga awal 2021 mendatang?

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jabar Dani Ramdan mengatakan pihaknya sudah melakukan antisipasi usai BMKG memprakirakan Indonesia pada umumnya masuk dalam fenomena La Nina.

"La Nina ini fenomenanya adalah intensitas hujannya tinggi jadi nanti akhir tahun sampai Januari, Februari akan sangat lebat hujan dan biasanya kalau di kita hujan lebat itu berimplikasi pada longsor dan banjir atau bencana hidrometeorologi," katanya, Selasa (13/10/2020).

BPBD menurutnya telah memetakan kabupaten/kota yang perlu mendapatkan kewaspadaan ekstra. Dia menunjuk wilayah Bogor Sukabumi, Selatan Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis Pangandaran. Kemudian di utara yaitu Karawang, Subang karena punya muara Sungai Citarum, termasuk Bekasi dengan potensi sungai Bekasi itu akan berdampak juga.

"Bandung Raya di khususnya Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung," katanya.

La Nina menurutnya memunculkan potensi kebencanaan yang diperkirakan lebih tinggi daripada tahun lalu. "Tapi ya mudah-mudahan dengan kewaspadaan yang meningkat ini, sisi dampak bisa kita kurangi karena kan sebenarnya dampak dari suatu bencana itu bukan hanya potensi tapi yang paling penting adalah kesiapan kita menghadapi. Kalau mitigasi bisa kita lakukan dari sekarang mungkin dampak bisa kita eliminir," ujar Dani.

Bagi kota kabupaten yang memiliki kerawanan yang tinggi, pihaknya siapkan mitigasi dan juga logistik yang sudah rutin diperkuat dalam setahun terakhir.

"Jadi logistik kita itu provinsi 80% nya ada di kota kabupaten di 27 didistribusikan. Nah 20% mana ada kabupaten yang ternyata habis, kita berikan dukungan lagi ke sana,"tuturnya.

Selain logistik, edukasi kebencanaan melalui mitigasi bencana pun dilakukan. Menurut Dani, Jawa Barat yang memiliki luas hampir sama dengan Jawa Timur dengan jumlah kabupaten/kota yang jauh lebih sedikit tidak bisa mengandalkan BPBD semata karena itu membutuhkan sokongan relawan.

"Kita punya Desa Tangguh Bencana di mana setiap desa itu kita latih selain perangkat desa juga Relawan Tangguh Tencana demikian juga Tagana punya relawan ada Kampung Siaga Bencana nah polanya berjenjang,"katanya.

La Nina sendiri ancaman serius mengingat intensitas hujan bakal lebih lebat atau tinggi daripada tahun lalu. Daerah-daerah yang memiliki kerawanan pergerakan tanah maupun memiliki kerawanan banjir pun mendapat atensi berlebih mulai dari mitigasi maupun kesiapan logistiknya.

Sebagian La Nina diprediksi akan mulai masuk musim hujan Oktober-November ini kemudian nanti puncaknya di Januari Februari lalu mulai turunnya di Maret-April 2020. Presiden Jokowi pun sudah mengingatkan agar kepala daerah mewaspadai ancaman ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpbd
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top