Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Belajar Wisata Halal dari Muslim Friendly di Jepang

Konsep pariwisata halal juga diterapkan di negara-negara lain, salah satunya Jepang. Asisten Profesor Keio University Yo Nonaka mengungkapkan di Jepang konsep halal sendiri mulai dikenal sejak beberapa tahun ke belakang, khusus pariwisata yang ramah muslim mulai berkembang sejak 2015.
Novianti
Novianti - Bisnis.com 01 September 2016  |  18:58 WIB
Belajar Wisata Halal dari Muslim Friendly di Jepang
(reuters)

Bisnis.com, BANDUNG - Konsep pariwisata halal juga diterapkan di negara-negara lain, salah satunya Jepang. Asisten Profesor Keio University Yo Nonaka mengungkapkan di Jepang konsep halal sendiri mulai dikenal sejak beberapa tahun ke belakang, khusus pariwisata yang ramah muslim mulai berkembang sejak 2015.

"Jepang akan menjadi tempat penyelenggaraan Olimpiade 2020, Jepang berharap akan ada banyak atlet, official, suporter dan wisatawan yang datang, termasuk wisatawan muslim," ujar Nonaka ketika menjadi pembicara di Seminar Internasional Pariwisata Halal di ITB pada Kamis (1/9/2016).

Nonaka menambahkan muslim merupakan kaum minoritas di negara sakura ini, karena itu isu wisata halal menjadi topik utama di Jepang. Menurutnya, pemerintah Jepang kurang perhatian dengan sektor pariwisata.

"Untuk menyambut Olimpiade 2020, Jepang akan menyambut tamu atau wisatawan dengan 'omotenashi'. Omotenashi adalah tradisi orang Jepang menerima tamu dengan ramah dan hangat. Omotenashi ini juga akan berlaku untuk para wisatawan muslim," ujarnya.

Dia menambahkan Universitas Keio dengan prefecture Kanagawa juga bekerjasama untuk mewujudkan 'Muslim Friendly' di Jepang.

"Langkah-langkah yang dilakukan adalah mencari restoran yang mau memiliki sertifikat halal dengan syarat restoran tersebut tidak boleh menggunakan bahan makanan berbahan dasar babi atau alkohol," jelasnya.

Namun, dia menambahkan langkah ini tidak 100% sukses. Hanya sekitar 29 restoran yang mau menerima sertifikat halal.

"Istilah restoran halal di Jepang diubah menjadi 'Muslim Friendly'. Restoran tersebut tidak 100% halal, namun restoran tersebut memiliki beberapa menu halal," ujarnya.

Selain itu, tersedia juga tempat sholat di beberapa hotel, bandara dan mall untuk mendukung mewujudkan Muslim Friendly ini.

Dalam kesempatan yang sama, juga hadir Director of Belgium Halal Club Marc Deschamps. Dalam paparannya, Marc mengatakan pemahaman tentang Islam dan konsep halal belum dipahami secara menyeluruh karena adanya perbedaan sudut pandang. Namun secara perlahan, konsep halal mulai dipelajari di Eropa, khsusunya di Belgia. (K10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kabar jabar
Editor : Fajar Sidik

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
back to top To top