Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Miliki 3 Bahan Utama Produksi Baterai, Indonesia Berpeluang jadi Pemain Utama di Industri EV Global

Salah satu kunci untuk mengoptimalisasi peluang tersebut yakni dengan melakukan hilirisasi.
Direktur Health Safety and Environment (HSE) Harita Tonny Gultom memberikan keterangan terkait baterai mobil listrik. -Bisnis/Dea Andriyawan
Direktur Health Safety and Environment (HSE) Harita Tonny Gultom memberikan keterangan terkait baterai mobil listrik. -Bisnis/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG—Indonesia  berpeluang menjadi pemain utama dalam ekosistem bisnis baterai electric vehicle atau EV dunia. Pasalnya Indonesia memiliki sebagian besar sumber daya yang dibutuhkan dalam industri baterai. 

Salah satu kunci untuk mengoptimalisasi peluang tersebut yakni dengan melakukan hilirisasi dari sejumlah hasil tambang di dalam negeri yang menjadi komponen utama produksi baterai. 

Direktur Health Safety and Environment (HSE) Harita Tonny Gultom mengatakan, Indonesia memiliki tiga sumber daya alam yang menjadi bahan baku utama dalam produksi baterai, yakni nikel, cobalt dan mangan.

Tiga komponen tersebut menurut dia melimpah sehingga Indonesia berpeluang menjadi pemain utama dalam ekosistem bisnis EV global. 

"Itu ada semua, hanya untuk baterai kan butuh anoda-nya, lithium yang kita gak punya," kata Tonny dalam Kuliah Umumnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) , soal Tantangan Penambangan Nikel dan Keberlanjutan Lingkungan Belajar dari Pulau Obi, belum lama ini. 

Menurutnya, hilirisasi menjadi hal yang penting oleh Indonesia mengingat sejumlah negara pun melakukan hal yang sama demi menjadi pemain utama di industri EV. 

Untuk itu, ia menilai pentingnya menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) andal agar orientasi eksplorasi bisa bersifat berlanjut dan berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional. 

"Saya senang karena mahasiswa di ITB kritis dan memang harusnya seperti itu untuk menyiapkan SDM," ungkapnya. 

Sementara itu, Akademisi dari ITB, Muhammad Sonny Abfertiawan menilai peran dunia akademis sangat penting dalam perkembangan dunia pertambangan yang memang komoditasnya masih sangat dibutuhkan. 

"Civitas akademis itu berperan memberikan alternatif solusi khususnya soal teknologi pertambangan hingga sistem pengelolaan limbah dari tambang sendiri," ungkap dia.

Selain itu, ia juga menilai kolaborasi antara perusahaan dan dunia pendidikan sangat penting untuk memberikan gambaran terhadap mahasiswa dalam sudut pandang pendidikan. 

"Dengan diskusi seperti ini, tentu mahasiswa lebih siap untuk mempersiapkan kompetensinya untuk bekerja nanti," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Dea Andriyawan
Editor : Dinda Wulandari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper