Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berkunjung ke Purwakarta, BPKN Kebanjiran Keluhan Pedagang Soal Kenaikan Harga Sembako

BPKN blusukan ke sejumlah pasar di Kabupaten Purwakarta, guna mengecek harga-harga kebutuhan pokok masyarakat jelang Ramadan, Kamis (10/2/2022).
Asep Mulyana
Asep Mulyana - Bisnis.com 10 Maret 2022  |  12:56 WIB
Rombongan BPKN berbincang dengan pedagang di Purwakarta. - Bisnis/Asep Mulyana
Rombongan BPKN berbincang dengan pedagang di Purwakarta. - Bisnis/Asep Mulyana

Bisnis.com, PURWAKARTA - Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) blusukan ke sejumlah pasar di Kabupaten Purwakarta, guna mengecek harga-harga kebutuhan pokok masyarakat jelang Ramadan, Kamis (10/2/2022).

Dalam kunjungannya, rombongan BPKN RI ini turut didampingi jajaran dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) setempat.

Salah satu pasar yang dikunjungi, yakni Pasar Rebo yang lokasinya di sekitar jalan Terusan Kapten Halim, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Purwakarta.

Kedatangan romobongan dari BPKN itu jelas menjadi kesempatan pedagang untuk berkeluh kesah. Kebanyakan, pedagang sembako yang menyampaikan keluhan soal kenaikan harga beberapa komoditi.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Rebo Purwakarta, Aep Saepudin menuturkan sejak beberapa hari ini sejumlah harga sembako mengalami kenaikan. Di antaranya, seperti gula pasir, minyak goreng dan terigu. Kondisi ini, menurut dia, bukan hanya merugikan konsumen, tapi juga para pedagang seperti dirinya.

"Harga minyak goreng kemasan, sekarang dikisaran Rp39.000 sampai Rp40.000. Padahal sebelumnya, itu masih dikisaran Rp34.000 per dua liter. Untuk Terigu, awalnya Rp8.000 sekarang naik menjadi Rp10.000. Sementara gula pasir dari sebelumnya Rp13.000 naik menjadi Rp14.500 per kilogram," ujar Aep saat menyapaikan keluhannya.

Dia menjelaskan, dari ketiga item bahan pokok yang ia sebutkan, kenaikan paling signifkan dialami minyak goreng kemasan yang sudah berlangsung sejak lama.

Bahkan, saat ini ia tidak bisa menjual minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan pemerintah yakni Rp14.000 periter. Alasannya, karena harga belinya juga tinggi sehingga berdampak pada penjualan kepada para konsumen.

"Minyak goreng dengan daya jual sesuai HET ada, tapi sedikit. Kalau habis saya membeli ke yang lain dengan harga lebih tinggi. Kemana sih minyak goreng ini, ko bisa seperti ini," ujar Aep bertanya kepada BPKN RI.

Aep berharap kepada BPKN RI agar pendistribusian minyak goreng dari pabrik langsung ke pedagang. Sehingga ada pemangkasan pendistribusian dan harga jual minyak goreng diyakini akan lebih murah.

Menanggapi keluhan pedagang, Wakil Ketua Komisi II Bidang Komunikasi dan Edukasi BPKN RI Firman Turmantara mengatakan, pihaknya sengaja berkunjung ke sejumlah pasar karena ada empat komoditi yang minta diperhatikan oleh pemerintah melalui BPKN RI. Yakni minyak goreng, daging sapi, gula dan terigu.

"Kami ingin memastikan, bagaimana konsumen itu tidak terbebani dengan harga-harga tinggi kita juga harus tahu pesanannya bagaimana. Keempat komoditi ini mereka minta pemerintah agar diperhatikan, jujur saya mendengarnya sedih yah," ujar Firman.

Dia menegaskan, dalam waktu dekat akan membuat surat rekomendasi setelah sebelumnya diplenokan terlebih dahulu karena BPKN RI merupakan lembaga negara.

"Keluhan-keluhan dari pedagang itu nanti akan kita sampaikan kepada pemerintah setelah diplenokan," kata Firman.

Sementara itu, kunjungan dari BPN RI ini tak hanya ke sejumlah pasar tradisional saja. Pemantauan ini juga berlanjut ke sejumlah pasar modern di wilayah tersebut. (K60)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpkn harga sembako purwakarta
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top