Program Insentif Karet Rakyat Naikkan Harga Bokar Hingga 23,48%

Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 15 April 2019  |  14:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V), perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang perkebunan sawit dan karet di Riau, berkomitmen melakukan inovasi bisnis guna meningkatkan kinerja perseroan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Salah satu inovasi yang digagas manajemen PTPN V adalah Program Insentif Untuk Karet Rakyat berupa pemberian subsidi harga bahan olah karet rakyat (bokar).

Program yang dilakukan secara khusus dan terbatas ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani karet serta menjadi stabilisator harga karet di pasar. Saat ini, Program Insentif Untuk Karet Rakyat telah diterapkan di dua wilayah unit kerja PTPN V yaitu Bukit Selasih dan Sei Lindai, Riau.

Program yang telah dilaksanakan sejak minggu ketiga Februari 2019 ini terdiri dari sejumlah kegiatan antara lain, melakukan pembelian karet secara langsung kepada petani plasma dengan ikut serta tender yang dilaksanakan kelompok tani.

Selain itu juga melakukan pembelian bokar kepada petani rakyat dilakukan secara langsung, dan melakukan sosialisasi kepada petani untuk ikut serta dalam program ini sehingga tepat sasaran dan memberikan manfaat kepada masyarakat

Direktur Utama PTPN V Jatmiko K. Santosa mengatakan, dalam waktu singkat program ini telah berhasil membawa manfaat positif yang besar bagi kesejahteraan petani karet di Riau. Setelah dilakukan Program Insentif Untuk Karet Rakyat, telah terjadi peningkatan harga beli Bokar di pasar karet lokal sebesar 23,48%.

"Selain itu, insentif yang kami berikan terbukti mampu membuat pergerakan harga pasar karet lebih kompetitif dan harga tidak lagi dipermainkan oleh pengumpul besar," kata dia, Senin (15/4/2019).

Dia menambahkan, sebelum dilakukan pemberian insentif, harga bokar di kalangan petani rata-rata Rp7.802-Rp.8004/KgKB. Namun, setelah PTPN V aktif membeli bokar petani, harga bokar meningkat menjadi rata-rata Rp9.336-Rp10.117/KgKB.

Artinya, harga Bokar naik rata-rata mencapai Rp1.539,- /KgKB. Kenaikan harga bokar tersebut diyakini mampu mendorong peningkatan pendapatan petani hingga rata-rata mencapai Rp1,53 juta per bulan, dengan asumsi produktifitas per hektar 500 KgKB/bulan dan memiliki lahan minimal 2 hektar.

Tidak hanya itu, inisiatif bisnis ini juga mampu mendorong peningkatan kinerja perseroan. Setelah pelaksanaan Program Insentif Untuk Karet Rakyat, pemenuhan kebutuhan karet PTPN V dapat terpenuhi sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

"Biaya Pengolahan karet juga dapat ditekan hingga 11,33%, dengan estimasi dari Rp2.977/KgKK menjadi Rp2.639,63/KgKK. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya kepercayaan petani karet untuk bekerjasama dengan PTPN V," imbuhnya.

Hingga minggu pertama April 2019, program ini telah dinikmati oleh total 2.923 petani, yang terdiri dari 983 orang petani di wilayah kerja Unit Pabrik Pengolahan Karet Rakyat (PPKR) Bukit Selasih (BSE) di Indra Giri Hulu dan 1.940 orang petani yang berada di wilayah Kebun Sei Lindai (SLI) di Kampar, Riau.

Adapun jumlah insentif yang telah dikucurkan bagi karet petani hingga Minggu pertama April 2019 mencapai Rp3,6 miliar. Potensi untuk perluasan program ini sangat besar mengingat jumlah petani dan luas lahan karet di Riau yang sangat besar.

Saat ini, jumlah petani plasma karet di Riau sebanyak 11.921 orang, di mana jumlah petani plasma PTPN V sebanyak 8.931 orang dan petani karet rakyat (mandiri) 235.908 orang.

Luas Perkebunan Karet di Riau 504.715 Ha terdiri dari 6.500 Ha kebun Inti PTPN 5 dan 17.861 Ha kebun Plasma PTPN 5. Sedangkan Plasma Swasta 5.981 Ha dan kebun rakyat 474.373 Ha.

"Kami optimistis, inovasi bisnis yang kami lakukan ini akan dapat meningkatkan pendapatan petani karet sekaligus menjadi wujud peran aktif BUMN yang selalu hadir dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bisnis Nasional

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top