Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Digempur Produk China dan Dihantam Pandemi, Perajin Kulit di Garut Kehabisan Nafas

Wakil Ketua Bidang Hubungan Pemerintahan Asosiasi Penyamak Kulit Garut Sukandar mengatakan, pelaku usaha penyamak kulit sudah dua kali dihantam dan mengalami kemerosotan penjualan hingga separuhnya. Pertama oleh gempuran produk impor dari china, kedua oleh pandemi Covid-19.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 13 September 2021  |  16:15 WIB
Pekerja melakukan proses pengolahan kulit di Satuan Pelayanan Pengembangan Industri Perkulitan Garut, di Sentra Industri Kulit Sukaregang, Kabupaten Garut, belum lama ini - Bisnis
Pekerja melakukan proses pengolahan kulit di Satuan Pelayanan Pengembangan Industri Perkulitan Garut, di Sentra Industri Kulit Sukaregang, Kabupaten Garut, belum lama ini - Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG - Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) penyamak kulit di Kecamatan Sukaregang, Kabupaten Garut berharap pemerintah menggunakan fungsinya untuk menghidupkan kembali usaha mereka yang saat ini mati suri.

Wakil Ketua Bidang Hubungan Pemerintahan Asosiasi Penyamak Kulit Garut Sukandar mengatakan, pelaku usaha penyamak kulit sudah dua kali dihantam dan mengalami kemerosotan penjualan hingga separuhnya. Pertama oleh gempuran produk impor dari China, kedua oleh pandemi Covid-19.

"Kita sebelum alami pandemi sudah mengalami penurunan, oleh produk-produk impor dari China, kita turun hampir 40 persen lebih," kata Sukandar kepada Bisnis.com, Senin (13/9/2021).

Menurutnya, perajin kulit sebelum adanya pandemi Covid-19 sudah dikagetkan dengan serbuan barang serupa dengan produk yang dibuat anggota asosiasinya dari China dengan harga yang sangat murah.

"Pembeli di kita kan yang penting harganya murah," jelas dia.

Sehingga hal tersebut mengoreksi cukup dalam penjualan hasil kerajinan kulit dari Garut tersebut.

Ke dua kata dia, sebenarnya sebelum pandemi permintaan kerajinan kulit baik tas, sepatu, dompet, jaket, sandal, sabuk dan produk lainnya sudah mulai meningkat, kemudian muncul lah pandemi Covid-19.

"Akhirnya kembali merosot penjualannya, kondisinya daya beli masyarakat menurun," ungkapnya.

Ia pun berharap pemerintah bisa memberikan stimulasi bagi keberlanjutan usaha perajin kulit di Sukaregang yang saat ini kian terpukul.

"Saya belum bisa memprediksi ke depan kondisinya akan seperti apa, karena dibutuhkan keberpihakan dari pemerintah," jelasnya. (K34)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garut Jelajah Investasi
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top