Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cerita Petugas Pemulasaraan Jenazah di Cirebon, Khawatir Tertular dan Dikucilkan

Misrad, 56 tahun, seorang petugas pemulasaran jenazah pasien positif Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun, setiap harinya dibayangi rasa ketakutan tertular virus dari Kota Wuhan, China.
Hakim Baihaqi
Hakim Baihaqi - Bisnis.com 24 November 2020  |  12:42 WIB
Warois atau petugas pemulasaran jenazah RSUD Arjawinangun, Misrad. - Bisnis/Hakim Baihaqi
Warois atau petugas pemulasaran jenazah RSUD Arjawinangun, Misrad. - Bisnis/Hakim Baihaqi

Bisnis.com, CIREBON - Misrad, 56 tahun, seorang petugas pemulasaran jenazah pasien positif Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun, setiap harinya dibayangi rasa ketakutan tertular virus dari Kota Wuhan, China.

Dikenal dengan nama petugas perawat rohani islam (warois), Misrad bertugas mengurus jenazah Covid-19, mulai dari memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga mengubur jenazah Covid-19. Tugas tersebut dilakukan bersama rekan tim lainnya.

Misrad mengaku, kalau ia tetap merasakan kekhawatiran dirinya terpapar Covid-19, namun semuanya diantisipasi dengan melakukan standar protokol pemulasaran jenazah, yakni mengenakan alat pelindung diri (APD).

"Meskipun takut, tetapi ini adalah tugas yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya," kata Misrad saat ditemui di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon, Selasa (24/11/2020).

Selain kekhawatiran tertular wabah tersebut, Misradi pun sering mengalami hal tidak menyenangkan, yakni jenazah Covid-19 yang sudah ia proses dianggap tak sesuai dengan syariat islam.

Padahal, menurut Misradi, seluruh proses pengurusan jenazah pasien positif Covid-19 dilakukan sesuai dengan syariat islam berdasarkan fatwa dari Majelis Ulama Indonesia. Kemudian, sebagian besar tim pengurusan jenazah Covid-19 pun merupakan sarjana agama.

"Sering dapat penolakan, kalau seperti ini saya serahkan ke polisi saja, tidak mau turun kalau kondisi belum aman. Keamanan kami juga harus dijamin," katanya.

Jumlah tim pemulasaran dan penguburan jenazah Covid-19 di RSUD Arjawinangun, saat ini 12 orang. Dari jumlah tersebut, 7 orang merupakan tim pemulasaran dan 5 orang lainnya petugas sopir ambulan.

Selama november ini, kata Misrad, jumlah pasien positif yang meninggal dunia karena Covid-19 mengalami peningkatan. Bahkan, proses penguburan dilakukan oleh ia bersama tim setiap harinya.

Hingga Selasa (24/11/2020), tercatat sudah ada 35 orang yang sudah dikebumikan dengan menggunakan standar protokol kesehatan.

"Teman-teman banyak yang ngedrop, tidak fit. saya sendiri sebenarnya sedang sakit pinggang, tapi tugas harus tetap berjalan," katanya..

Petugas pengurusan jenazah lainny, Ayip Mudarto (50), mengatakan, selama pandemi ini adalah tugas terberatnya, lantaran seringkali dijauhi oleh orang terdekat yang khawatir tertular wabah Covid-19.

Bahkan, kata Ayip, tugas terberat dan menyedihkannya yakni melakukan pemulasaraan dan menguburkan kerabat dekatnya.

"Saya tidak membeda-bedakan jenazah saudaranya dengan jenazah warga Kabupaten Cirebon lainnya, proses pemulasaran hingga penguburannya sama, yakni tetap memakai protokol Covid-19," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cirebon
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top