Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Buku Palasari Bandung: Unggulan yang kini Meredup

Kesuksesan Pasar Buku Palasari Bandung ini akan bergantung pada kemampuannya untuk berinovasi dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen modern.
Pasar Buku Palasari Bandung/Bisnis-Dini Putri Rahmayanti
Pasar Buku Palasari Bandung/Bisnis-Dini Putri Rahmayanti

Bisnis.com, BANDUNG - Pasar Buku Palasari di Kota Bandung yang dulu menjadi surganya pencari buku, kini menghadapi perkembangan zaman dan meredup eksistensinya. Pasar buku yang berdiri sejak tahun 1960-an itu sempat berjaya di era 1990-an, namun kondisi kini kian redup. Kebanyakan kios tutup atau tidak berjualan.

Namun, masih ada beberapa pedagang buku yang bertahan di lokasi tersebut dan menawarkan beragam buku cetakan baru ataupun bekas, mulai dari kamus, buku-buku novel, buku pembelajaran, komik, hingga peralataan sekolah.

Beberapa faktor telah berkontribusi terhadap meredupnya Pasar Buku Palasari Bandung dari informasi yang dihimpun dari beberapa penjual diantaranya ialah pertumbuhan pesat teknologi dan pergeseran ke media digital telah mengubah cara orang membaca dan mengakses informasi. Buku elektronik (e-book) dan platform pembaca digital semakin populer, mengurangi permintaan akan buku cetak.

Lalu, pandemi telah menghantam sektor perdagangan fisik, termasuk penjualan buku. Lockdown dan pembatasan sosial mengakibatkan penutupan toko buku dan mengurangi kunjungan pembeli. Serta, beberapa toko buku di Pasar Buku Palasari telah menghadapi kenaikan harga sewa toko yang signifikan, yang membuat mereka sulit bersaing dengan toko buku online dan raksasa e-commerce.

Ade, salah satu penjual buku di Palasari mengungkapkan jika dirinya sudah pasrah menerima keadaan Pasar Buku Palasari yang semakin lama semakin meredup eksistensinya.

“Yang berjualan di (toko) online kan sudah punya nama, dia bayar iklannya juga kan besar. Sedangkan kami pendapatan pun gak menentu, mahasiswa sudah pakai e-book dan kampus-kampus sudah jualan buku, Palasari sisa-sisanya mungkin,” ujar Ade kepada Bisnis, Selasa (27/2/2024).

Selain itu, selera pembeli buku bisa berubah seiring waktu. Buku-buku populer terkini yang terkait dengan tren dan kebutuhan pembaca saat ini lebih disukai daripada katalog yang lebih lama yang mungkin ditawarkan di Pasar Buku Palasari.

Salah satu pembeli buku di palasari, Windy, mahasiswi Universitas Pasundan Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, ia mengatakan jika Pasar Buku Palasari adalah tempat langganannya untuk membeli buku penunjang perkuliahan maupun buku-buku lainnya

“Soalnya kan di pasar ini tu emang terkenal buku-bukunya se-Bandung, jadi ke sini deh. Terus terkenal murah, bukunya juga komplet,” Kata Windy “Dulu waktu zaman maba (mahasiswa baru) tu sering ke sini, ngeborong gitu, buat beli buku kuliah.”

Windy juga mengatakan jika membeli buku secara offline dengan mendatangi toko buku langsung masih menjadi opsi favoritnya dalam membeli buku karena tidak perlu menunggu pengiriman berhari-hari seperti membeli di toko online.

Meskipun menghadapi tantangan yang signifikan, Pasar Buku Palasari memiliki potensi untuk pulih dan berkembang. Windy mengatakan jika para pedagang mungkin bisa berjualan dengan menyesuaikan pada perkembangan zaman, selain membuat media sosial atau toko online, pedagang bisa berkreasi untuk membuat konten pada sosial media untuk menarik pengunjung.

“Bikin kaya sosial media yang khusus di palasari (menghimpun pedagang-pedagang di palasari), terus bikin konten-konten,” Saran Windy.

Meskipun Pasar Buku Palasari Bandung menghadapi tantangan yang signifikan, dengan strategi yang tepat dan adaptasi terhadap perubahan pasar, pasar ini masih memiliki potensi untuk memainkan peran penting dalam budaya literasi Bandung dan Jawa Barat. Kesuksesan pasar ini akan bergantung pada kemampuannya untuk berinovasi dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen modern.

Palasari dari Waktu ke Waktu

Pasar ini mulai muncul pada tahun 1960-an yang awalnya berupa pasar rakyat biasa yang menjual kebutuhan pokok masyarakat, terutama untuk warga yang berada di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong.

Selanjutnya, melalui program Instruksi Presiden (Inpres), pada 1977 didirikan bangunan dua lantai. Pedagang-pedagang perintis menempati bangunan lantai bawah, sedangkan di lantai dua ditempati oleh pedagang kaki lima yang direlokasi dari Kawasan Cikapundung yang tidak jauh dari Alun-alun Kota Bandung pada tahun 1980.

Jumlah kios semakin bertambah dari waktu ke waktu dan semakin menjadi tempat unggulan Warga Bandung untuk membeli buku, di masa Orde Baru Pasar Buku Palasari merupakan target Razia buku-buku kiri dan dilarang pemerintah pada masa itu.

Pada awal Januari tahun 1993, pasar buku dua lantai ini habis dilahap api yang berkobar sepanjang malam. Lalu, kejadian yang sama terulang kembali pada tahun 2007 dan menghanguskan 67 kios pedagang buku dan ribuan judul buku.

Digitalisasi semaki masif, puncaknya ketika orang-orang sangat mengandalka sosial media akrena tidka bisa beraktivitas bebas di luar rumah adalah pada masa pandemi Covid-19, penjualan pedagang menurun drastis, ditambah toko-toko online yang mendominasi penjualan, minat literasi masyarakat yag masih kurang terhadap literasi, atau anggapan bahwa buku fisik tidak ringkas dan lainnya membuat penurunan penjualan pedagang di Palasari tidak bisa dihindari.

(Dini Putri Rahmayanti)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Redaksi
Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper