Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Septi Ariyani Sulap Garam Jadi Produk Bernilai Jual Tinggi

Di tangan Septi Ariyani (37), warga Desa Grogol, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, harga garam yang memiliki nilai jual tidak lebih dari Rp600 per kilogram mampu disulap menjadi bahan baku untuk pembuatan produk kosmetik bernilai jual tinggi.
Hakim Baihaqi
Hakim Baihaqi - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  13:43 WIB
Septi Ariyani mampu mengolah garam menjadi bahan baku untuk pembuatan produk kosmetik bernilai jual tinggi. - Bisnis/Hakim Baihaqi
Septi Ariyani mampu mengolah garam menjadi bahan baku untuk pembuatan produk kosmetik bernilai jual tinggi. - Bisnis/Hakim Baihaqi

Bisnis.com, CIREBON - Di tangan Septi Ariyani (37), warga Desa Grogol, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, harga garam yang memiliki nilai jual tidak lebih dari Rp600 per kilogram mampu disulap menjadi bahan baku untuk pembuatan produk kosmetik bernilai jual tinggi.

Sebelum beralih profesi menjadi produsen garam kecantikan, Septi tercatat sebagai pegawai di Dinas Kelautan dan Perikanan serta petugas tenaga pendamping program garam dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia.

Saat menjalani pekerjaan sebelumnya, Septi mengaku geram lantaran pada 2011 hingga 2015, harga garam di Kabupaten Cirebon hanya dihargai Rp200 per kilogram, sehingga menumpuk di gudang penyimpanan.

"Saya lihat ada garam yang dipanen beberapa waktu lalu, tetapi di tahun selanjutnya belum terjual," kata Septi di Kabupaten Cirebon, Rabu (5/2/2020).

Pada 2016, Septi memantapkan diri untuk berhenti kerjaan tersebut dan memilih menjadi produsen garam kecantikan, karena pada saat itu di Kabupaten Cirebon belum ada yang menggeluti usaha garam kecantikan.

Beberapa hari setelah berhenti bekerja di pemerintahan, Septi pun mengikuti pelatihan dari Balitbang KKP Republik Indonesia di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon tentang cara memanfaatkan garam menjadi produk dengan harga tinggi.

"Di situ saya semakin yakin kalau garam bisa dimanfaatkan jadi produk bernilai tinggi, bukan hanya untuk kebutuhan pangan atau industri. Saya putuskan memilih garam kecantikan," katanya.

Di luar negeri, kata Septi, garam kecantikan sudah lama populer digunakan untuk perawatan tubuh. Bahkan warga Indonesia yang ingin mendapatkan garam kecantikan harus impor terlebih dahulu.

"Di luar negeri itu harganya Rp700 ribu. Banyak yang pakai juga kalangan menengah ke atas," katanya.

Berbagai jenis produk yang berhasil dibuat oleh Septi untuk perawatan, di antaranya, hair treatment, scrub, face toner, penghilang jerawat serta kusam di wajah, lulur mandi, dan aroma terapi.

Masing-masing produk memiliki harga bervariasi, face scrub Rp40.000, hair treatment Rp35.000, foot salt Rp50.000, face toner Rp35.000, body scrub Rp50.000, dan lulur mandi Rp50.000. Dalam sebulannya Septi mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah.

"Saya jual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan produk impor. Produk saya ini sekarang sudah ada di enam daerah, ada di Palembang, Surabaya, Bandung, Surabaya, Bekasi, sama Jakarta, sisanya online," kata Septi.

Saat ini, Septi sengaja menyewa 25 hektare lahan di Desa Bungko, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon dengan harga Rp5 juta hektare. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan garam raw material kualitas tinggi.

"Alasan sewa lahan karena banyak petani tidak serius mempertahankan kualitas. Padahal kalau bagus dibutuhkan banyak orang," katanya. (K45)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cirebon
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top