Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Strategi PSDA Jabar Atasi Defisit Air

Berdasarkan Alokasi Pemenuhan Air Wilayah Sungai Citarum 2015, kebutuhan air di Metropolitan Bandung defisit hingga 7, 27 kubik per detik. Di mana kebutuhan mencapai 10, 63 kubik dan ketersediaan hanya 3, 36 kubik per detik.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 04 November 2019  |  11:39 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com,BANDUNG—Berdasarkan Alokasi Pemenuhan Air Wilayah Sungai Citarum 2015, kebutuhan air di Metropolitan Bandung defisit hingga 7, 27 kubik per detik. Di mana kebutuhan mencapai 10, 63 kubik dan ketersediaan hanya 3, 36 kubik per detik.

Kepala Bidang Perencanaan Teknis Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jabar Dikky Ahmad Sidik mengatakan, dengan perkembangan penduduk yang kian waktu terus bertambah, pihaknya memprediksi angka defisit air akan terus membesar.

Adapun skema yang telah dilakukan, khususnya dalam penyediaan air baku untuk air minum di antaranya dengan pengembangan bendungan dan mata air. Namun jumlah ini belum mencukupi.

"Memang ada program yang sudah dilaksanakan. Mata Air Gambung sudah setengah kubik, cuma masih jauh untuk target (defisit) 7 kubik," katanya di Bandung, Senin (4/10/2019).

Dia mengaku telah mengumpulkan ahli dari berbagai institusi untuk memberikan solusi jangka pendek, menengah, dan panjang, terkait masalah ketersediaan air bersih pada musim kemarau Raya di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (24/10/19) lalu. Pada kesempatan itu, Pemerintah Provinsi Jabar berencana membuat Gerakan Menabung Air guna mengatasi permasalah tersebut.

"Konsepnya tidak hanya menampung tapi sekaligus membuat tampungan sekaligus memperbaiki muka air tanah dan memperbaiki kualitas air tanah," katanya.

Pihaknya mendapatkan usulan untuk membangungun receiver besar untuk menampung air hujan, salah satunya berada di Rancaekek, Kabupaten Bandung. Selain itu, mendapat masukan agar membuat waduk retensi 100 hektare untuk menampung kelebihan air yang ada di Sungai Citarum agar dimanfaatkan sebagai air baku.

"Jadi sudah ada rencana-rencana pengembangan walaupun belum dituangkan secara detail. Karena itu otomatis harus masuk juga dalam pola pengelolaan sungai Citarum," Paparnya.

Menurutnya saat ini wilayah yang kerap mengalami dampak yaitu Bandung timur. Kondisi itu salah satunya lantaran pengembangan penduduk yang cenderung tinggi. Disamping itu kaitan dengan sumber-sumber airnya yang tidak sebanyak di sisi selatan ke arah barat.

"Receiver itu kenapa dibangun di timur salah satunya menampung dari DAS Citarik pada saat hujan kan banjir. Nanti dimanfaatkan sebagai air baku di wilayah timur," pungkasnya.

Sebelumnya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan persediaan air bersih saat musim kemarau kerap menjadi sorotan. Selain karena air bersih menjadi kebutuhan masyarakat, jumlah populasi Jabar yang banyak tidak lepas dari atensi.

"Isu Jawa Barat adalah populasi, otomatis air bersih juga menjadi isu yang menyusul karena air menjadi kebutuhan hidup yang utama bagi manusia," ujar Ridwan Kamil.

Emil -sapaan Ridwan Kamil- menambahkan, Gerakan Menabung Air juga bertujuan untuk mengurangi potensi terjadinya banjir. Saat ini, Pemdaprov Jabar masih terus membahas model Gerakan Menabung Air secara komprehensif.

"Rencana terdepannya menabung air, skala rumah, kecamatan, dan Kota/Kabupaten. Jadi, pas musim hujan, air itu bisa ditabung, pas musim kemarau air bisa dipanen," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemprov jabar
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top