Bertemu Menteri LH Jepang, Ridwan Kamil Minta Bantuan

Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  10:45 WIB
Bisnis.com,BANDUNG—Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam lawatannya ke Jepang bertemu secara khusus dengan Menteri Lingkungan Hidup [LH] Jepang Tsukasa Akimoto, Senin (20/5/19) waktu setempat.

Gubernur Ridwan Kamil dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Vice Minister for Global Environment Affairs KLH Jepang Yasuo Takahashi tersebut memaparkan hubungan kerjasama antara Indonesia-Jepang khususnya dengan Jawa Barat yang sangat panjang. 

“Provinsi kami bisa dibilang rumah kedua bagi orang Jepang di Indonesia,” kata gubernur yang akrab disapa Emil ini dalam rilis Humas Jabar.

Menurutnya secara lingkungan bahkan Jawa Barat mirip dengan Jepang yang banyak memiliki gunung berapi, bencana gempa dan kerap mengalami musibah tsunami. Pertemuan dengan Yoshiaki Harada sekaligus menyampaikan dua rencana kerjasama pihaknya. “Pertama berkaitan dengan metropolitan dan kedua soal kebencanaan,” kata Emil.

Terkait metropolitan pihaknya memastikan tengah fokus pada pengendalian lingkungan salah satunya adalah pengelolaan sampah perkotaan. Jawa Barat berencana ke depan pengelolaan sampah bisa ramah lingkungan seperti layaknya di Jepang. “Sebagai Gubernur saya membawahi 27 kota, dimana jika ada 1 proyek lingkungan berhasil, saya jadikan contoh untuk daerah lainnya,” jelasnya.

Langkah pertama menyelesaikan sampah perkotaan menurutnya sudah dilakukan Jawa Barat dengan membangun fasilitas pengelolaan dan pemrosesan akhir sampah (PPAS) Lulut, Nambo, Bogor atau Luna. Luna yang nilai proyeknya mencapai US$ 60 juta akan melayani sampah di Bogor Raya plus Tanggerang Selatan.

“Sekarang kami akan membangun lima fasilitas dari sampah plastik menjadi bahan bakar. Kalau ini berhasil sampah-sampah plastik perkotaan bisa kita ambil dan jadikan bahan bakar. Akan mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan,” kata gubernur.

Pada Menteri Tsukasa Akimoto pun menyampaikan rencana Jawa Barat yang akan menjadi provinsi pertama yang memasukkan kurikulum kebencanaan di sekolah dasar dan menengah. “Oleh karena itu kami mohon dibantu, contoh modul pengajaran di sekolah yang bisa kami latih ke guru dan diajarkan kepada anak sekolah,” Emil menuturkan.

Selain itu pihaknya juga meminta bantuan teknologi bagaimana mengubah Citarum yang masih menjadi sungai terkotor berubah menjadi sungai terbersih. “Karena presiden menugaskan saya 5 tahun untuk membersihkan mudah-mudahan pak Menteri bisa membantu saya,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bandung raya

Editor : Ajijah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top