Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rawan Pergerakan Tanah, Beberapa Kampung di Purwakarta Tak Layak Jadi Pemukiman Warga

BPBD Kabupaten Purwakarta melansir beberapa perkampungan di dua desa yang ada di ujung Barat wilayah ini tak layak untuk dijadikan pemukiman penduduk.
Asep Mulyana
Asep Mulyana - Bisnis.com 03 Oktober 2022  |  15:21 WIB
Rawan Pergerakan Tanah, Beberapa Kampung di Purwakarta Tak Layak Jadi Pemukiman Warga
Kasus pergerakan tanah di Purwakarta
Bagikan

Bisnis.com, PURWAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purwakarta melansir beberapa perkampungan di dua desa yang ada di ujung Barat wilayah ini tak layak untuk dijadikan pemukiman penduduk.

Pasalnya, wilayah tersebut berada di antara pertemuan dua sesar atau patahan yang rentan akan pergeseran tanah.

Kepala BPBD Kabupaten Purwakarta Yuddy Herdiana mengatakan asil assessment jajarannya, potensi pergeseran tahan yang paling diantisipasi itu di antaranya di Kampung Cirangkong, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru. Serta, beberapa kampung di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani.

"Daerah itu merupakan pertemuan antara sesar Lembang dan Sesar Baribis yang membentang hingga daerah Tangerang. Jadi, hasil kajian kami bersama Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi menyatakan jika wilayah ini tidak layak dihuni karena sangat rawan pergerakan," ujar Yuddy kepada Bisnis.com di kantornya, Senin (3/10/2022).

Yuddy menjelaskan, pergerakan tanah di wilayah ini terutama di Kampung Cirangkong Desa Psanggarahan, memang kerap terjadi. Apalagi, di saat intensitas hujan mulai menunjukkan peningkatan. Makanya, saat ini pihaknya pun harus ektra waspada sehingga hal-hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi sedini mungkin.

"Dari data yang ada di kita, sejak 2019, 2020 dan 2021 juga sempat terjadi pergeseran tanah. Puncaknya, di 2021 yang sedikitnya 11 rumah hancur, 48 rumah rusak berat, serta 12 rumah yang rusak ringan," kata dia.

Adapun di 2022 ini, kejadian tersebut juga kembali terulang. Tepatnya, pada awal Juni kemarin hingga mengakibatkan 21 rumah yang mengalami kerusakan. Tak hanya itu, akibat pergeseran tanah ini, jalan desa di wilayah itu juga terputus dan tak lagi bisa dilalui kendaraan.

"Tahun ini kami juga sudah melakukan Assesment. Kami tegaskan, Kampung Cirangkong memang yang paling rawan, khususnya di dua RT. Kita juga sudah menyampaikan jika lingkungan mereka tidak layak lagi untuk ditinggali," jelas dia.

Menurut Yuddy, saat ini pemerintah juga sedang berupaya untuk merelokasi warga di kampung itu ke tempat yang lebih aman. Ada salah satu wilayah yang telah dipilih, yakni tetangga kampung yang masih satu desa. Adapun relokasinya, dilakukan secara bertahap.

Sementara itu, saat kejadian pergerakan di awal 2021 lalu Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika sempat menyampaikan jika pergeseran tanah di wilayah tersebut diakibatkan beberapa hal. Di antaranya, terjadinya alih fungsi tanah yang dulunya hutan dengan tanaman keras, sekarang menjadi menjadi kebun.

"Hasil dari laporan Badan Geologi, salah satu penyebabnya itu karena adanya aktivitas penambangan batu. Saya berharap, semua pihak termasuk masyarakat bersama-sama untuk bisa menjaga lingkungan," ujar Anne kala itu. (K60)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpbd purwakarta
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
back to top To top