Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Strategi Deenay Jadi Brand Hijab Muslim Papan Atas

Deenay sudah bergelut dan merasakan asam garam industri bisnis fashion muslim selama delapan tahun terakhir.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  19:09 WIB
Koleksi fashion muslim Deenay. - Istimewa
Koleksi fashion muslim Deenay. - Istimewa

Bisnis.com, BANDUNG - Pasar industri fashion muslim dan hijab di Indonesia masih sangat besar untuk dimaksimalkan. 

Untuk menjaringnya, pelaku usaha di sektor tersebut harus terus berinovasi dan memperluas wawasan dalam hal desain produk.

Merujuk Merujuk Thomson Reuters, pangsa pasar ekonomi Islam diperkirakan terus tumbuh hingga US$3.007 miliar pada tahun 2023. Jumlah penduduk muslim dunia yang mencapai 1,8 miliar atau 24 persen dari populasi global, belum lagi populasi generasi muslim milenial sangat mempengaruhi tren fashion muslim ke depan.

Dari sisi potensi, Indonesia merupakan konsumen busana muslim terbesar ketiga di dunia yang menghabiskan sebesar US$20 miliar atau sekitar Rp300 triliun. Ini adalah peluang yang sangat besar, apalagi pemerintah menargetkan Indonesia sebagai pusat fashion muslim dunia.

Trini Midiati Yuniar merasakan potensi bisnis fashion muslim tersebut melalui brand bernama Deenay, ia sudah bergelut dan merasakan asam garam industri selama delapan tahun terakhir. Melepas karir di perusahaan BUMN pun dirasa setimpal.

“Awalnya saya iseng bikin produk di sela kesibukan kerja. Akhirnya, memutuskan resign karena ingin mengembangkan produk sekaligus agar waktu bisa lebih banyak dengan keluarga,” ucap Trini Midiati Yuniar, Jumat (27/5/2022).

Produk Deenay lebih berfokus pada segmentasi perempuan. Mereka menyediakan busana untuk perempuan yang bekerja, formal hingga pakaian santai sehari-hari. Corak geometri menjadi ciri khas yang tetap dipertahankan.

Dari sisi desain, meski berkiblat pada perkembangan industi di Paris, namun, penentuan bahan, warna dan potongan busana atau hijab disesuaikan dengan karakteristik Indonesia.

“Desain kami lebih ke smart casual, nyaman buat daily, ada yang dinamis dan sporty. Tapi tentu ada diferensiasi. Ketika brand lain sedang fokus ke corak florist, kami tetap geometrik,” kata dia.

“Inspirasi tentu kami lihat pusat industri fashion, katakanlah di Paris, Prancis. Kami sesuaikan saja bahan dan warnanya. Intinya kami punya karakter yang harus dipertahankan di tengah persaingan industri yang dinamis, ada ciri khas,” jelas dia.

Selama delapan tahun terakhir, periode pandemi Covid-19 ia akui merupakan yang tersulit dilewati. Namun, ada beberapa hal yang ia terapkan. Selain mempertahankan ciri khas brand, ia tetap menjaga karyawan dan reseller yang sudah tersebar di hampir seluruh Indonesia.

Ia bersyukur bahwa kasus pandemi sudah mulai melandai. 60 karyawan dan 130 reseller bisa dia jaga. Hubungan yang dijalin pun lebih pada pendekatan kekeluargaan. 

Salah satu caranya adalah mengadakan pertemuan setahun sekali, sekaligus memberi apresiasi berupa memberi beragam hadiah hingga jalan-jalan ke luar negeri kepada mereka.

“Kuncinya ya kami sudah anggap keluarga semua yang berperan. Apalagi reseller ini kan sangat penting karena berhubungan langsung dengan end user. Ini mungkin bisa diterapkan oleh pelaku usaha lain,” terang dia. 

“Setelah pandemi menurun, kami optimits kegiatan bisa kembali normal. Hal yang akan dilakukan adalah terus menjaga sistem penjualan di online maupun offline. Offline seperti toko ini penting juga untuk menjaga image brand. Insya allah kami akan menambah outlet. Sekarang sudah ada lima di Jakarta satu, sisanya di Bandung,” ia melanjutkan.

Menurut dia, pasar industri fashion muslim masih sangat luas. Ia sendiri baru bisa memaksimalkan area pulau Jawa. Sedangkan potensinya sangat besar pula di pulau lain. Trini pun mengajak pelaku usaha di industri yang sama agar terus optimistis.

“Kami pasar banyak di Pulau Jawa. Tapi potensinya masih banyak, di pulau lain sama, di luar negeri juga apalagi. Brunei, Malaysia, Dubai marketnya besar, peluangnya masih banyak, Indonesia juga belum kita garap semua,” jelas dia. 

Sementara itu, Wakil Ketua Dekranasda Jabar Lina Marlina Ruzhan menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen membantu pelaku UMKM, termasuk pelaku bisnis fashion mengembangkan bisnisnya.

“Kami memberikan peluang, untuk memberikan pelatihan terus juga memberikan ruang untuk mereka memamerkan produknya. Para pelaku usaha harus harus berani membuka diri, berani menjawab tantangan, mau berinovasi,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fashion busana muslim
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top