Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Metaverse Diperkirakan Efektif di Indonesia Tahun 2025

Layanan efektif Metaverse akan bergantung seberapa isu bidang infrastruktur, peranti keras, dan regulasi bisa diselesaikan di Indonesia.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 31 Maret 2022  |  12:57 WIB
Siniar Webinar Metaverse dan NFT: Aspek Hukum, Bisnis, dan Teknologi
Siniar Webinar Metaverse dan NFT: Aspek Hukum, Bisnis, dan Teknologi

Bisnis.com, BANDUNG - Layanan Metaverse di Indonesia diperkirakan bisa efektif digunakan masyarakat Indonesia dalam tiga tahun ke depan atau pada 2025 dengan memberi pengalaman baru sisi kustomer setelah memenuhi sejumlah kebutuhan lapangan.

Presiden Forum Alumni Universitas Telkom (FAST) Sri Safitri mengatakan prediksi tersebut merujuk sejumlah kalkulasi realistis.

"Layanan efektif Metaverse akan bergantung seberapa isu bidang infrastruktur, peranti keras, dan regulasi bisa diselesaikan di Indonesia. Jika sisi-sisi ini belum bisa ditangani, maka use case Metaverse tidak bisa dalam waktu dekat dilaksanakan," katanya, dikutip Kamis (31/3/2022).

Deputy Executive Vice President CX & Digitization PT Telkom ini mencontohkan, mayoritas kecepatan jaringan internet masyarakat Indonesia kisaran 10 Mbps. Sebuah angka yang masih harus ditingkatkan lagi untuk layanan Metaverse yang mulus dan memberikan pengalaman pelanggan yang baik.

Selain itu, tujuh fondasi layanan pun belum semuanya matang dan mapan menyokong Metaverse. Yakni perangkat keras, komputer, networking, platform virtual, interchange tools & standards, serta layanan pembayaran dan konten.

"Jangan lupakan pula isu keamanan, potensi serangan siber akan muncul, bahkan dalam bentuk yang belum pernah ada. Privasi pun akan dicari-cari celahnya oleh kriminal, karena kelak Metaverse ini seperti honeypot. Sarang madu baru yang akan dikerubungi dan jadi target utama," katanya.

Pun demikian, jika sudah mulus diberikan, maka akan terdapat sisi menarik yang perlu diperhatikan dari sisi pengalaman pelanggan. Antara lain perusahaan penyedia akan lebih mampu kenali generasi Z dan milenial, akan mudah melihat historis perjalanan kustomer, serta bisa eksplorasi dan tingkatkan kepuasan pengalaman pelanggan dari sisi MR (Mixed Reality), AR (Augmented Reality), dan VR (Virtual Reality).

"Ini pun agar pengalaman maksimal, jangan terlalu terburu-buru karena kita perlu identifikasi, tes, dan cek dulu atribut pelanggan. Perusahaan perlu navigasi customer journey lebih lanjut, termasuk mencari paduan kebutuhan masyarakat akan Metaverse yang tetap dipadukan kebutuhan fisikal mereka," sambungnya.

Perusahaan bahkan bisa melihat seberapa lama mata pelanggan menatap iklan yang ada di layanan Metaverse, sehingga peluang monetisasi dan komersialisasi layanan juga meningkat drastis.

Guru Besar Kecerdasan Buatan Telkom University Suyanto menambahkan, kampusnya sedang mengembangkan Metaverse berbasis Automated Explained Artificial Intelegence yang diperkirakan titik sempurna layanannya baru terjadi pada 2030 mendatang.

"Teknologi kami ini masuk generasi ke-4 dengan menggunakan pendekatan white box, yakni akurasi tidak tinggi tapi segalanya bisa dijelaskan ke semua pihak. Data besar dan data kecil masuk ke teknologi berbasis mesin dengan output paremeter otomatis, termasuk membuka peluang masyarakat ikut kembangkan coding-nya," pungkasnya.(k34)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

metaverse
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top