Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berkongsi dengan Jerman, Jasa Sarana Targetkan Nambo Beroperasi 2022

BUMD PT Jasa Sarana telah menentukan mitra untuk pengelolaan TPPAS Lulut Nambo di Kabupaten Bogor Jawa Barat.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 24 Maret 2021  |  15:35 WIB
(kiri ke kanan) Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar Prima Mayaningtias, dan Direktur Utama BUMD PT Jasa Sarana Hanif Mantiq
(kiri ke kanan) Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar Prima Mayaningtias, dan Direktur Utama BUMD PT Jasa Sarana Hanif Mantiq

Bisnis.com, BANDUNG — BUMD PT Jasa Sarana telah menentukan mitra untuk pengelolaan TPPAS Lulut Nambo di Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Direktur Utama PT Jasa Sarana Hanif Mantiq mengatakan mitra asal Jerman, yaitu EUWELLE Environmental Technology GmbH adalah mitra yang berpengalaman dalam pengelolaan sampah berbasis ramah lingkungan.

EUWELLE Environmental Technology GmbH telah menerapkan teknologi MYT (Maximum Yield Technology) di beberapa Negara asia seperti China dan Thailand.

“Dan saat ini EUWELLE siap bekerjasama dengan Indonesia untuk menerapkan teknologi tersebut khususnya pada Proyek Nambo di Jawa Barat,” katanya Rabu (24/3/2021).

Penggunaan Teknologi MYT dipilih karena kelebihannya dalam memanfaatkan secara maksimal proses daur ulang limbah sampah rumah tangga/perkotaan, sehingga menghasilkan potensi energi maksimum yang dikombinasikan melalui inovasi teknologi tinggi dan terdiri dari 5 tahap, diantaranya: Waste Intake, Mechanical Processing, Biological Stage, Biological Drying dan Mechanical Material Separation.

TPPAS Nambo adalah tempat pengelolaan sampah yang berdiri di atas lahan seluas 15 hektare dengan kapasitas sampah 1.800 ton per hari, diperuntukkan untuk mengelola sampah dari beberapa daerah Jawa Barat, di antaranya Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok dan Kota Tangerang Selatan.

Beberapa output dari pengelolaan sampah rumah tangga tersebut berupa, Refused Derived Fuel (RDF), Bulir Pupuk, dan Biogas. Produk RDF akan dijual sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk pabrik semen seperti Indocement dan Bulir Pupuk dapat dijual ke PT Pupuk Indonesia atau masyarakat sesuai harga pasar. Hasil ekstraksi berupa Biogas pun dapat menjadi sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik demi menunjang tarif listrik EBTK yang lebih kompetitif melalui PLN.

Hanif menjelaskan pengolahan sampah yang ramah lingkungan ini merupakan pilot project persampahan pertama di Jawa Barat yang menggunakan teknologi pengolahan sampah modern.

Skema Proyek Nambo berupa Public Private Partnership (KPBU), yaitu alternatif pembiayaan selain APBD dari Pemerintah. PT Jasa Sarana sudah menjajaki skema pembiayaan untuk pembangunan TPPAS Nambo melalui sumber pendanaan dengan bermitra bersama IIF (Indonesia Infrastructure Finance), PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) dan Bank BJB.

“Pembangunan Pengolahan Sampah Modern di Nambo ini adalah wujud dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menyelesaikan permasalahan sampah regional perkotaan, dan diharapkan dengan penerapan teknologi tinggi dalam pengelolaan sampah ini menjadi solusi dan menjadi contoh penanganan sampah di Jawa Barat maupun Indonesia. Konstruksi TPPAS Nambo akan dimulai pada tahun 2021 dan diharapkan dapat beroperasi secara optimal pada tahun 2022,” tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMD Jabar
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top