Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kelangkaan Pupuk Terjadi di Kabupaten Cirebon, Stok Hanya 23.000 Ton

Di wilayah Kabupaten Cirebon, stok pupuk untuk petani sebanyak hanya sebanyak 23.000 ton.
Hakim Baihaqi
Hakim Baihaqi - Bisnis.com 28 September 2020  |  11:14 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, CIREBON - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Ali Effendi, mengatakan, kelangkaan pupuk terjadi di Kabupaten Cirebon beberapa waktu terakhir ini. Hal tersebut terjadi lantaran adanya pengurangan pasokan dari pemerintah pusat.

Di wilayah Kabupaten Cirebon, stok pupuk untuk petani sebanyak hanya sebanyak 23.000 ton. Angka itu masih kurang 42.000 untuk lahan pertanian di kabupaten tersebut.

"Kabupaten Cirebon padahal sudah mengajukan 25 ribu ton, meskipun kebutuhan sebenarnya itu 28 ribu ton setiap tahunnya, tapi yang dibagi cuma 23 ribu ton," kata Ali di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (28/9/2020).

Di Kabupaten Cirebon, kata Ali, ada beberapa daerah yang membutuhkan pupuk dengan jumlah lebih banyak lantaran melakukan tiga kali masa tanam dalam satu tahunnya. Di antaranya Sumber, Plumbon, Depok, dan Dukupuntang.

"Kami akan minta lagi sebanyal 5 ribu ton pupuk. Katanya pihak kementerian pun sudah berkoordinasi. Setelah ada kami langsung suplai kepada petani," katanya.

Petani di Kabupaten Cirebon mengaku terancam gagal panen di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut lantaran sulit mendapatkan air bersih hingga kesulitan pupuk.

Sekretaris Majelis Pertimbangan DPC Serikat Petani Indonesia kabupaten Cirebon, Dedi Supriyatno, mengatakan, tahun ini merupakan tahun terberat bagi para petani. Di wilayah Cirebon, petani sulit mendapatkan pupuk jenis ZA dan Pokska sulit.

"Di wilayah timur, meliputi Kecamatan Lemahabang, Astanajapura, Pangenan, dan Kecamatan Gebang," kata Dedi.

Dedi berharap, Dinas Pertanian dapat melakukan sidak di lapangan, terkait kesulitan para petani di Kabupaten Cirebon mendapatkan pupuk. Ia menyebutkan, sebagian besar para petani mengandalkan kebutuhan sehari-harinya dari hasil pertanian.

"Katanya ada regulasi baru dari pemerintah tentang program kartu tani yang menjangkau lebih dari 12 juta petani. Namun sekarang belum ada," katanya.

"Harus tanggung jawab kalau pupuk sampai telat karena bisa menurunkan produktivitas. Selain itu," sambungnya. (K45)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cirebon
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top