P2TPA Sukabumi Imbau Wanita tidak Tergoda Bekerja di Luar Negeri

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengimbau kaum wanita untuk tidak tergoda dengan iming-iming kerja di luar negeri, seperti menjadi buruh migran.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 September 2019  |  14:04 WIB
P2TPA Sukabumi Imbau Wanita tidak Tergoda Bekerja di Luar Negeri
Ilustrasi. Petugas Kementerian Luar Negeri bersama BNP2TKI mendata Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Arab Saudi setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (10/6). - Antara/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, SUKABUMI - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengimbau kaum wanita untuk tidak tergoda dengan iming-iming kerja di luar negeri, seperti menjadi buruh migran.

"Wanita Sukabumi tidak perlu lagi bekerja di luar negeri , tetapi alangkah baiknya bekerja saja di daerah ini karena banyak potensi yang bisa menghasilkan uang," kata Ketua P2TP2A Kabupaten Sukabumi Yani Marwan Hamami di Sukabumi, Senin (23/9/2019).

Menurut dia, kasus yang menimpa Dewi Puspita TKW asal Kampung Cijambe, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat yang hilang kontak di Suriah selama 9 tahun menjadi kasus terakhir yang menimpa pahlawan devisa.

Namun, berkat kerja sama semua pihak dan kepedulian Pemerintah Kabupaten Sukabumi serta langkah cepat tim Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), baik Sukabumi maupun Riyadh, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus dan Kementerian Luar Negeri RI, dalam hitungan hari setelah adanya pelaporan Dewi bisa ditemukan.

Saat ini, Dewi sudah dipulangkan ke kampung halamannya, kemudian yang bersangkutan membuka lembaran baru bersama suami, anak, dan keluarganya.

Istri Bupati Sukabumi Marwan Hamami pun memberikan apresiasi kepada tim SBMI yang selalu membantu P2TP2A dan Pemkab Sukabumi.

"Kami pun mempunyai program reintegrasi untuk para mantan TKW untuk diberdayakan sesuai dengan keahlian dan keinginannya agar bisa melanjutkan kehidupan yang lebih baik lagi serta tidak kembali lagi bekerja ke luar negeri," tambahnya.

Yani mengatakan bahwa wanita Sukabumi harus berani menolak iming-iming bekerja di luar negeri karena banyak yang harus dikorbankan seperti meninggalkan anaknya, suami, ataupun keluarganya.

Selain itu, belum tentu di luar negeri mendapatkan tempat yang layak karena tidak sedikit juga TKI yang pulang dalam kondisi bekas disiksa, tidak dibayarkan haknya, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Ketua SBMI Jabar Jejen Nurjanah mengatakan bahwa seluruh hak Dewi selama bekerja di Suriah, seperti upah, sudah dibayarkan oleh majikannya dan selama hilang kontak tersebut kondisi Dewi sehat dan aman.

Selain itu, setiap menerima laporan adanya TKI bermasalah, pihaknya selalu berkoordinasi dengan tim SBMI Riyadh, Arab Saudi, Kementerian Luar Negeri, dan KBRI di negara tempat pekerja migran tersebut bekerja.

Ia selalu mengingatkan kepada siapa pun, khususnya wanita yang ingin bekerja ke luar negeri, harus mengetahui apakah negara itu masih moratorium pengiriman TKI.

"Tentunya harus melalui jalur legal sehingga jika terjadi permasalahan bisa segera ditindaklanjuti," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tkw

Sumber : Antara
Editor : Ajijah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top