Puncak Kemarau Panjang, Ketersediaan Air Baku di Kota Bandung Mulai Menipis

Puncak musim kemarau panjang yang terjadi di Kota Bandung diperkirakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi pada Agustus ini. Cadangan air di dua bendungan yang menjadi sumber air baku bagi Kota Bandung, yakni Bendungan Cipanunjang dan Cileunca pun mulai menyusut cukup drastis.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  13:17 WIB
Puncak Kemarau Panjang, Ketersediaan Air Baku di Kota Bandung Mulai Menipis
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, BANDUNG -- Puncak musim kemarau panjang yang terjadi di Kota Bandung diperkirakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi pada Agustus ini. Cadangan air di dua bendungan yang menjadi sumber air baku bagi Kota Bandung, yakni Bendungan Cipanunjang dan Cileunca pun mulai menyusut cukup drastis.

Kepala Sub Bidang Hubungan Masyarakat, PDAM Tirtawening, Muhammad Indra Priadi mengatakan, dampak puncak kemarau ini memang sudah mulai dirasakan, utamanya terkait ketersediaan air di sejumlah sumber air baku.

Meski demikian, Indra memastikan hingga hari ini, produksi air baku yang dikelola oleh PDAM Tirtawening masih relatif normal.

"Yang perlu diketahui, memang musim kemarau sudah terasa untuk Bandung, namun PDAM (Tirtawening) sendiri saat ini sebetulnya produksi air baku relatif normal," kata Indra kepada Bisnis, Rabu (14/8).

Indra menjelaskan, dua situ atau bendungan yang memasok kebutuhan air baku di Kota Bandung yakni Bendungan Cipanunjang dan Cileunca saat ini mengalami penurunan volume air cukup signifikan.

Hingga akhir Juli lalu, Indra menyebut terjadi penurunan muka air hingga 8 meter dari total kedalaman bendungan lebih dari 20 meter ini. 

"Sisanya sekitar 12,9 meter lagi hingga ke titik nol, setiap hari kita pantau penurunan bervariasi, rata-rata 20-40 cm," jelas Indra. 

Kondisi serupa juga terjadi di Situ Cileunca, di sana kata Indra juga mengalami penurunan muka air hingga 6,5 meter dari total kedalaman 12 meter hingga 13 meter. Sehingga hanya menyisakan debit air dengan ketinggian permukaan air sekitar 5,5 meter saja.

Kota Bandung kata Indra memang sangat tergantung terhadap sumber air yang terletak di Kabupaten Bandung tersebut. Bagi PDAM Tirtawening, sebagai operator pengelola sumber air baku, tidak bisa berbuat banyaj jika saja dua sumber air terbesar tersebut mengalami kekeringan.

"Kita di Bandung ada, di Dago Bengkok, itu terkendala karena kita memaksimalkam air limpahan produksi PLTA, kalau PLTA tidak berjalan kita juga mengalami permasalahan, kalau level air tidak mencapai maksimal mereka tidak menyalakan perangkat pembangkit listriknya, pasti mengurangi debit produksi," kata Indra. (k34)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kekeringan

Editor : Ajijah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top