Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI: 4 Faktor jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi di Ciayumajakuning

Salah satunya, pembangunan proyek pipa gas Cirebon-Semarang dan proyek bendungan.
Jaringan pipa gas/Bloomberg
Jaringan pipa gas/Bloomberg

Bisnis.com, BANDUNG—Sejumlah proyek pemerintah dan swasta di Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan dinilai dapat menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi daerah, yang dikenal dengan sebutan Ciayumajakuning, pada tahun 2024.

Hal tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Bambang Pramono,saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Kantor BI Jabar, Kota Bandung, Rabu (29/11/2023) malam.

Deputi Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Bambang Pramono memaparkan, ada empat faktor yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Ciayumajakuning.

Salah satunya, pembangunan proyek pipa gas Cirebon-Semarang dan proyek bendungan. Kemudian, investasi korporasi multiyears berupa pembangunan pabrik tekstil dan pengembangan kawasan industri.

“Terakhir, pengembangan sentra ekonomi garam rakyat di lahan seluas 600 hektare akan menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Menurut Bambang, meredanya dampak el nino di tahun 2024 serta sinergi dan kolaborasi yang terus dilakukan dalam pengendalian inflasi akan berjalan baik bila dilakukan secara seasonal maupun struktural. 

“Kami optimis kalau inflasi di jawa Barat akan berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5%. Kami juga mendorong pemerintah daerah di Ciayumajakuning untuk meningkatkan akselerasi,” kata Bambang.

Sementara itu, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Cirebon menyebutkan investasi sektor industri Tekstil dan produk tekstil (TPT) di Kabupaten Cirebon, mengalami kelesuan sepanjang 2023 ini.

Nilai investasi sektor industri tekstil sepanjang 2023 hanya menembus angka Rp81,17 miliar.

“Sektor industri ini lebih kecil dibandingkan sektor lainnya. Masuk ke dalam investasi paling kecil,” kata Dede.

Kelesuan tersebut pun terjadi karena pemerintah daerah tidak merekomendasikan industri tekstil melakukan ekspansi ke wilayah Kabupaten Cirebon, terutama bagian timur. 

Rekomendasi tersebut dilontarkan lantaran wilayah Kabupaten Cirebon minim suplai air baku. Dalam aktivitasnya, industri tekstil membutuhkan air lebih banyak karena digunakan sebagai pelarut pewarna dan bahan kimia; media untuk transfer pewarna dan bahan kimia ke kain; hingga media pencuci dan pembilas. 

“Ini jelas sangat membutuhkan banyak air. Sementara, suplai air baku yang ada sangat minim. Jangankan untuk industri, kebutuhan masyarakat juga belum terpenuhi,” kata Dede.

Pemerintah masih mengharapkan investor sektor industri lainnya bisa melirik daerahnya untuk ekspansi. Wilayah ujung timur Jawa Barat ini, masuk ke dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Metropolitan Rebana.

Selain itu, pemerintah juga masih mengharapkan investor bisa membangun Industri padat karya. Hal tersebut dilakukan agar menyerap tenaga kerja lokal lebih banyak.

"Kami sangat mengharapkan industri padat karya. Meskipun begitu, bukan dalam arti kami menyampingkan industri padat modal atau padat teknologi. Masyarakat yang bisa bekerja bisa di industri yang kami inginkan," kata Dede.
 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hakim Baihaqi
Editor : Dinda Wulandari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper