Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nestapa Petani Garam di Cirebon, Terpaksa Alih Tanam Bawang karena Cuaca Buruk

Toto mengatakan proses pembentukan garam tergantung dengan cuaca. Bila hujan terus mengguyur, maka tidak akan ada garam yang bisa dipanen.
Petani bawang di Kabupaten Cirebon
Petani bawang di Kabupaten Cirebon

Bisnis.com, CIREBON - Petani garam di Kabupaten Pangenan, Kabupaten Cirebon, harus beralih profesi menjadi petani bawang merah. Ini adalah efek dari cuaca buruk dalam beberapa tahun terakhir.

Petani garam di Pangenan, Toto mengatakan proses pembentukan garam tergantung dengan cuaca. Bila hujan terus mengguyur, maka tidak akan ada garam yang bisa dipanen.

Saat ini, kata Toto, para petani garam di Pangenan sudah menyiapkan lahan untuk ditanami bawang. Tanaman bawang, diklaim  tahan dengan curah hujan tinggi.

“Karena garam tidak bisa diproduksi di musim hujan seperti ini, kami beralih menanam bawang merah,” kata Toto di Kabupaten Cirebon, Senin (19/12/2022).

Ia menjelaskan, luas areal penanaman bawang merah tentu berbeda dengan lahan yang dicadangkan untuk produksi garam. Karena tanah yang asin tidak cocok untuk ditanami bawang merah atau tanaman lainnya.

Selain menanam bawang, ada sebagian kecil petani yang memanfaatkan lahan garam untuk menanam bandeng atau udang saat musim hujan. “Tapi itu sangat sedikit, karena modalnya cukup besar,” kata Toto.

Petani bawang merah lainnya, Warpin menjelaskan menanam bawang merah membutuhkan modal yang cukup besar dan keuntungannya yang bisa tinggi.

Namun, risiko yang akan diterima petani yang menanam bawang yakni, terserang hama atau anjloknya harga di pasaran.

“Untuk satu hektare lahan bawang merah ia kini membutuhkan modal sekitar Rp40-50 juta. Itu belum termasuk sewa satu hektare yang setara dengan Rp10-15 juta dalam satu musim,” kata Warpin.

“Jadi modalnya cukup besar. Oleh karena itu, sebagian besar tabungan digunakan untuk modal menanam bawang. Selain bawang merah, suatu areal bisa ditanami tanaman lain seperti terong, cabai, dan kacang tanah,” sambungya.

Nasib petani garam di Kecamatan Pangenan semakin tidak menentu. Anomali iklim yang terjadi membuat sepanjang 2022 ini tak bisa melakukan panen.

Ismail Marzuki, perwakilan petani garam di Pangenan menyebutkan penyebab tidak adanya aktivitas panen garam karena curah hujan yang tinggi sepanjang 2022 dan beberapa kali terjangan banjir rob.

Menurut Ismail, seharusnya pada musim kemarau 2022 ini para petani di Pangenan bisa melakukan panen. Namun, musim kemarau singkat membuat proses penggaraman menjadi rusak.

"Tahun ini sangat parah, belum panen sama sekali. Padahal, harga garam saat ini 1200 per kilonya dan itu sangat bagus," kata Ismail.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hakim Baihaqi
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper