Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menengok Tradisi Rebo Wekasan di Kabupaten Cirebon, Ngapem hingga Tawurji

Sejumlah warga di Kabupaten Cirebon masih mencoba melestarikan tradisi Rebo Wekasan yang merupakan warisan era Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati.
Hakim Baihaqi
Hakim Baihaqi - Bisnis.com 21 September 2022  |  15:02 WIB
Menengok Tradisi Rebo Wekasan di Kabupaten Cirebon, Ngapem hingga Tawurji
Tradisi Rebo Wekasan di Kabupaten Cirebon
Bagikan

Bisnis.com, CIREBON - Sejumlah warga di Kabupaten Cirebon masih mencoba melestarikan tradisi Rebo Wekasan yang merupakan warisan era Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati.

Salah satu titik Kabupaten Cirebon yang menggelar Rebo Wekasan ada di Situs Pangeran Pasarean, Kelurahan Gegunung, Kecamatan Sumber.

Rebo Wekasan merupakan rabu terakhir di Bulan Safar. Secara tradisi, Rebo Wekasan biasa diperingati dengan berbagai acara, mulai dari salat sunah, pembacaan doa tolak bala atau menolak musibah.

Dalam peringatan Rebo Wekasan ini ada tradisi Tawurji. Tawurji terdiri dari dua kata, yaitu tawur yang berarti memberi dan ji yang bermakna haji atau disimbolkan sebagai orang mampu.

Tradisi Tawurji di Cirebon adalah sedekah kepada orang-orang tidak mampu, termasuk anak yatim. Mereka akan mendatangi orang mampu yang bersedekah dan orang-orang tidak mampu akan mendoakan kepada yang bersedekah.

Pegiat budaya Cirebon R Chaidir Susilaningrat mengatakan secara tertulis tradisi Tawurji di Cirebon belum diketahui, namun konon sudah dilakukan sejak zaman para wali.

"Katakanlah yang mampu ini memberikan sedekah kepada orang tidak mampu, kemudian mereka mendoakan. Sehingga, Tawurji ini ada lagunya 'tawurji, tawurji, selamat panjang umur', itu adalah doa," kata Chaidir di Kabupaten Cirebon, Rabu (21/9/2022).

Melalui sedekah kepada anak yatim, lanjut kata Chaidir, diyakini doa mereka akan terkabul.

Tak hanya tawurji, Rebo Wekasan di Cirebon biasa diperingati masyarakat dengan membuat makanan bernama apem yang berasal dari bahasa Arab yaitu afuwun yang bermakna ampunan. "Orang yang bersedekah ini salah satu tujuannya untuk meraih ampunan," kata Chaidir.

Apem saat dahulu merupakan makanan yang biasa dimakan oleh orang kaya, sehingga mereka berbagi kebahagiaan kepada orang miskin melalui makanan tersebut.

Apem merupakan makanan tradisional yang terbuat dari campuran tepung beras dan terigu. Apem yang disajikan saat bulan Safar ini biasa disajikan dengan cairan gula merah, yang akan menambah cita rasa semakin lezat.

Tradisi Tawurji di Cirebon sendiri, kata Chaidir, semakin langka, sebab kebiasaan bersedekah masyarakat sudah bervariasi.

Tradisi Tawurji dan Ngapem ini masih dilestarikan oleh pegiat budaya Cirebon R Hasan Ashari yang mengajak para warga sekitar untuk melestarikan tradisi Rebo Wekasan.

"Rangkaian Rebo Wekasan di Situs Pangeran Pasarean dimulai dari salat sunah berjamaah sebanyak enam rakaat, membaca doa tolak bala atau menolak musibah, tawasul, tawurji hingga membagikan apem," ungkapnya.

Hasan menambahkan, jika kondisi air Sungai Cipager yang berada di dekat situs tidak kering, biasanya warga berbondong-bondong berebut air doa untuk dipakai mandi.

Meski demikian, tradisi Rebo Wekasan tetap berjalan lancar. Warga yang hadir tampak antusias, terutama saat Tawurji. Mereka saling berebut untuk mendapatkan uang.

Warga sekitar, Eli mengatakan ia membuat apem yang biasa dibagikan kepada masyarakat yang hadir. "Saya biasa buat apem terus dibagikan. Tadi juga ikut sawer soalnya ngalap berkah," kata Eli.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cirebon
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
back to top To top