Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hijrah ke Digital, Brand Peter Nation Raup Untung di Masa Pandemi

Meski produksi dihentikan, Hendra tetap mempertahankan penjahit dan pegawai tokonya sehingga ia harus memutar otak untuk tetap bisa memasarkan produk.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 08 Juni 2021  |  14:53 WIB
Proses produksi Peter Nation - Istimewa
Proses produksi Peter Nation - Istimewa

Bisnis.com, BANDUNG — Pemasaran digital kian relevan bagi industri fashion untuk menjangkau konsumen secara langsung di masa pandemi. Kemudahan memasarkan produk melalui media digital juga dimanfaatkan Hendra, 37, pemilik lini busana Peter Nation.

Didirikan pada 2008, Peter Nation awalnya menjual produk secara grosir. Tokonya yang berada di Pasar Tanah Abang Jakarta terus berkembang.

“Kami fokus bikin barang buat department store dari 3 tahun pertama,” ujar Hendra, Selasa (8/6/2021).

Tepat tahun lalu, Hendra mulai menjajal pemasaran digital. Saat itu toko grosir Peter Nation terpaksa tutup selama 5 bulan. Meski produksi dihentikan, Hendra tetap mempertahankan penjahit dan pegawai tokonya sehingga ia harus memutar otak untuk tetap bisa memasarkan produk.

“Awalnya bingung harus fotonya gimana, cara jualnya gimana, cara nge-post-nya. Marketplace ternyata membantu sekali. Pasarnya lebih luas,” ungkapnya.

Peter Nation sejak awal berdiri fokus pada busana khusus pria. Produknya meliputi kemeja lengan pendek, kemeja lengan panjang, hingga baju muslim.

Setiap barang dibuat oleh konveksi pribadi dari tangan puluhan penjahit lokal. “(Peter Nation) berusaha bikin yang orang lain gak bikin. Produksi lokal. Apa yang orang request kita bikinin,” jelas Hendra.

Ia menjamin Peter Nation menggunakan bahan terbaik dengan harga ‘kaki lima’. Kisaran harga yang ditawarkan Rp185.000 hingga Rp195.000.

Linen premium dan oxford menjadi dua bahan utama yang dipakai. Meski berawal dari grosir, seluruh produk Peter Nation terjamin dengan quality control dan bisa ditukar jika ada kerusakan. “Karena bikin sendiri, harganya bisa di-press,” katanya.

Hendra mengatakan, ke depan, brandnya masih akan fokus pada busana pria. Ekspansi dilakukan dengan menambah koleksi menggunakan bahan premium lain.

Bagi Hendra, menjaga kinerja bisnis di tengah pandemi berarti pengusaha harus berani memberikan yang terbaik bagi konsumen. Salah satunya dengan beradaptasi terhadap teknologi.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Indonesia menargetkan 39 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masuk ekosistem digital pada 2024. Dengan adanya upaya digitalisasi ini, diharapkan struktur ekonomi nasionak yang didominasi UMKM bisa membaik.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, saat ini baru 19 persen atau sekitar 12 juta UMKM yang melek digital. Pemasaran digital dinilai sebagai kunci utama pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi.

Selama pandemi, transaksi digital tercatat mencapai 3,1 juta transaksi per hari atau meningkat 26 persen. Tingginya angka tersebut menunjukkan kesepatan go digital bagi UMKM masih terbuka lebar.I


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm industri kreatif
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top