Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Komisi IV DPR RI Angkat Bicara Soal Petani Milenial

Keberadaan petani milenial kini menjadi profesi baru yang digemari oleh para pemuda.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 01 April 2021  |  10:33 WIB
Program Petani Milenial - Istimewa
Program Petani Milenial - Istimewa

Bisnis.com, BANDUNG - Keberadaan petani milenial kini menjadi profesi baru yang digemari oleh para pemuda.

Di tengah lahan pertanian yang semakin kecil, petani milenial harus bisa terus berinovasi agar tetap produktif terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi. “Menjadi petani itu jangan terpaku dengan sawah. Sekarang sawah sudah habis jadi perumahan dan pabrik,” ujar Dedi Mulyadi dalam keterangan yang diterima Bisnis, Kamis (1/4/2021).

Menurut Dedi Mulyadi petani kini bisa memanfaatkan lahan terbatas sebagai media tanam menggunakan jenis bibit khusus. Contohnya padi gogo yang bisa ditanam menggunakan pot di mana saja dan kapan saja.

Contoh lainnya, kata Dedi Mulyadi, pelajar di Purwakarta sejak awal pandemi tetap produktif dengan melakukan penanaman padi gogo di sekolah dan rumah.

“Sekarang kita bisa lihat anak-anak tiga sampai empat bulan sekali bisa panen. Jadi perlu pemikiran inovatif agar anak tetap produktif daripada disuruh belajar daring yang akhirnya mereka malah main atau motor-motoran tidak karuan,” ucapnya.

Dedi Mulyadi juga meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pangan dan Pertanian memberi contoh kepada masyarakat memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami tanaman produktif seperti padi gogo.

“Sekarang dinas pertanian saja beras masih beli, harusnya kasih contoh jangan hanya mengajari saja. Coba sekarang itu hitung setiap bangunan pemerintah ada berapa lahan kosong, tanami padi gogo, saya yakin kita tidak perlu lagi beli beras apalagi impor,” katanya.

Ia menyebut padi atau beras merupakan sebuah harga diri bagi masyarakat Sunda. Sehingga para petani selalu memakan manajemen hati bukah hitungan bisnis dalam mengelola sawahnya.

“Petani leluhur kita itu bertani bukan urusan untung rugi, tapi memakai manajemen hati. Menanam dengan penuh cinta, kebaikan dan ibadah. Tapi sekarang lihat, karena semua serba dihitung mulai dari perencanaan, biaya ini itu, kemudian nanti panennya untung segitu, malah pada rugi. Buktinya wilayah penghasil beras terbesar di Jabar malah pengkonsumsi beras raskin atau rasta terbanyak,” ucap Dedi Mulyadi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Dedi Mulyadi
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top