Pengolahan Sampah di Kawasaki Jepang Mirip Kang Pisman

Pejabat Sementara (Pjs) PD. Kebersihan Kota Bandung, Gungun Saptari mengungkapkan gerakan Kurangi Pisahkan dan Manfaatkan (Kang Pisman) ini sejalan dengan konsep penanganan sampah di dunia.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  12:36 WIB
Pengolahan Sampah di Kawasaki Jepang Mirip Kang Pisman
Wali Kota Bandung Oded M Danial (kiri) dalam salah satu agenda lawatannya ke Jepang - Istimewa

Bisnis.com, BANDUNG -- Pejabat Sementara (Pjs) PD. Kebersihan Kota Bandung, Gungun Saptari mengungkapkan gerakan Kurangi Pisahkan dan Manfaatkan (Kang Pisman) ini sejalan dengan konsep penanganan sampah di dunia.

Bahkan, di Kota Kawasaki, Jepang pemerintah setempat juga mengusung program serupa dengan memunculkan sosok maskot bernama Kawarun.

Gungun yang baru saja melakukan studi ke Jepang ini menuturkan, di Kota Kawasaki khususnya saat ini masih gencar mengampanyekan konsep 3R yakni Reduce, Reuse dan Recycle untuk pengelolaan sampah. Kampanye budaya pengelolaan sampah di hulu ini juga menghadirkan maskot Kawarun untuk bisa lebih menjangkau ke masyarakat.

“Kawarun ini adalah salah satu maskot kampanye 3R di Jepang dan mereka mengubah budaya ini cukup panjang dan Kawarun ini tokoh yang dimunculkan dalam upaya perubahan budaya ini. Kang Pisman tidak sendirian tapi di negara lain melakukan hal yang sama,” ucap Gungun, Senin (10/2/2020).

Gungun mengungkapkan dari hasil diskusinya selama di Jepang ternyata di Kota Kawasaki juga pernah terjadi tragedi serupa ‘Bandung Lautan Sampah’ yang terjadi di Kota Bandung pada 2005 silam, ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwi Gajah mengalami musibah longsor.

Menurut Gungun peristiwa di Kawasaki kala itu justru menjadi titik awal bagi pemerintah dan masyaraat untuk bersama-sama membangun budaya baru menjalankan pola 3R dalam mengelola sampah.

“Mereka pernah mengalami episode sama seperti Bandung lautan sampah. Mereka di sana menyebutnya darurat sampah, itu terjadi tahun 1990. Itu menjadi momentum bagi masyarakat Kota Kawasaki untuk melakukan perubahan dalam penanganan sampah. Salah satu yang akhirnya merekasadari tentang bagaimana menerapkan 3R,” jelasnya.

Gungun memaparkan, dari konsep utama gerakan 3R yaitu menuntaskan sampah dari sumbernya. Semangat ini sejalan dengan konsep yang diusung Oded M. Danial dan Yana Mulyana melalui program Kang Pisman.

“Jadi bagaimana penanganan sampah bukan hanya sekadar pola kumpul, angkut dan buang, tapi bagaimana mengurangi sampah sejak dari sumber, pemilahan sampah, pemanfaatan sampah dan daur ulang sampah. Kalau di Kota Bandung ini kita terjemahkan konsep ini sebagai Kang Pisman,” ungkapnya.

Masih menurut Gungun, konsep Kang Pisman ini juga selaras dengan gerakan ‘zero waste lifestyle’ yang trennya terus naik daun dalam 10 tahun terakhir di Eropa dan Amerika. Metode pengelolaan sampah ini ternyata sudah tumbuh di Jepang sejak puluhan tahun silam.

Sama halnya dengan gerakan Kang Pisman, lanjut Gungun, metode pengelolaan sampah tersebut menggandeng keterlibatan banyak pihak untuk bisa menangani masalah sampah. Baik pemerintah, perusahaan swasta dan seluruh elemen masyarakat ikut berjuang mengurangi, memilah dan memisahkan serta memanfaatkan sampah yag diproduksinya sendiri.

“Jadi 'zero wastelife style' ini sebuah budaya baru bagaimana seluruh pihak yang terkait termasuk sumber penghasil sampah baik masyarakat atau komersil atau industri ikut terlibat dalam upaya penyelesaian sampah. Salah satunya dengan menerapkan 3R kalau di Jepang, zero waste kalau di Eropa dan di Bandung ini Kang Pisman, intinya sampah itu sudah dikurangi sejak dari sumber,” ungkapnya. (K34)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pemkot bandung

Editor : Ajijah
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top