Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Startup Amoda yang Curi Perhatian di Acara G20

Amoda, startup di bidang properti dan konstruksi asal Indonesia, menjadi salah satu yang menyedot perhatian.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 07 Oktober 2022  |  20:26 WIB
Mengenal Startup Amoda yang Curi Perhatian di Acara G20
Amoda, startup di bidang properti dan konstruksi asal Indonesia.
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG - Rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi G20 Indonesia 2022, yang digelar pada 28 September hingga 2 Oktober 2022 di Pasar Nusa Dua 2, Bali, mencuri perhatian internasional.

Selain menjadi kegiatan penting bagi perjalanan kerja sama ekonomi dunia, rangkaian ini juga menyita atensi karena diramaikan sederet karya inovatif dari jajaran startup di Indonesia.

Amoda, startup di bidang properti dan konstruksi asal Indonesia, menjadi salah satu yang menyedot perhatian. Lima unit produk mereka yang bernama ErgaPods tampil di sana dan diisi oleh sederet jenama kenamaan di antaranya Esteh Indonesia, Butter Beurre, Ubud Raw Chocolate & Cacao, Korte Chocolate, dan Namasindo Plas.

Selain karena bentuknya yang unik dan futuristik, produk berukuran 3,6 meter x 2,4 meter ini punya desain yang dapat dipindahkan dan diperluas sesuai dengan kebutuhan.

CEO Amoda, Robin Yovianto, mengatakan bahwa startup-nya tampil di G20 untuk mengenalkan produk mereka yang dinilai efektif bagi pengusaha dan/atau property owner. Misalnya, kata dia, dengan salah satu produk Amoda yakni ErgaPods, pengusaha dapat memindahkan asetnya ke mana pun ia mau.

“Dulu tempat bekerja atau berbisnis seperti ini tak bisa dipindahkan sehingga investasi akan mati. Mereka sekarang bisa mengefisienkan investasinya. Pemindahannya juga tidak perlu pakai crane, seperti memindahkan kontainer yang menghabiskan uang sekitar Rp 30 juta,” ujar Robin, dalam siaran pers yang diterima.

Lewat G20, Amoda menunjukkan bahwa startup mereka inovatif dan telah menjadi solusi bagi investasi, khususnya di bidang properti. Persis seperti yang dibilang oleh Agusti “Bojes” Salman Farizi, Co-Founder Amoda, yang mengatakan jika startup-nya adalah jalan keluar bagi pelaku usaha dalam menemukan lokasi terbaik untuk bisnisnya.

“Bagi kami, di mana pun lokasinya, Amoda solusinya,” tutur Bojes.

Namun, jauh sebelum bisa eksis dan tampil di rangkaian G20 itu, Amoda nyatanya punya perjalanan yang panjang.

Startup ini lahir dari keilmuan Robin yang dibangun bersama Bojes. Pada 2011 Robin menempuh kuliah Strata 1 (S1) Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung. Kampus Ganesha ini ia pilih karena kesukaannya terhadap fisika dan mekanik.

Robin mengaku sangat mencintai teknik sipil dan kesehariannya selama menempuh pendidikan di ITB. Maka itu, jangan heran jika pada akhirnya ia berhasil meraih cumlaude dengan IPK 3.95 ketika lulus dari ITB di tahun 2015.
Keberhasilannya di jenjang S1, tak membuat Robin puas untuk mendalami keilmuannya. Ia ingin sesuatu yang lebih, hingga nasib membawanya melanjutkan jenjang pendidikan di Stanford University.

Di Stanford, ia berfokus pada Real Estate Development and Investment yang tergabung di dalam program Sustainable Design and Construction (Desain dan Konstruksi Berkelanjutan).

“Saya memang memiliki ketertarikan di dunia entrepreneurship, karena dari dulu tidak tertarik untuk membangun mimpi orang lain. Saya selalu ingin meng explore, dan tidak suka dengan status quo yang sangat tidak efisien” tuturnya.

Setelah lulus dari Stanford University pada 2017, Robin semakin mengenal industri konstruksi dan bangunan. Tidak hanya soal keilmuannya, ia juga semakin mengenal berbagai kendala yang dihadapi dalam industri konstruksi dan bangunan, baik dari segi teknis maupun biaya.

“Banyak hal yang tidak efisien dan optimal dalam sebuah pembangunan konstruksi. Banyak uang yang digelontorkan dan tak efisien, sehingga budgeting selalu bocor, penjadwalan selalu lewat,” kata Robin.

Pun dalam dunia properti. Robin berpikir jika para pengusaha di Indonesia memiliki banyak lahan atau space yang tidak termanfaatkan dengan baik, atau setidaknya tak terpakai dengan maksimal.

“Sementara pemilik lahan harus nge-deal sama lembaga konstruksi yang bingung dalam bekerja. Maka itu gak sedikit orang yang berhimpun di dunia konstruksi dan bangunan itu tidak happy dan puas,” ujarnya.

Dari keresahan itulah Amoda lahir, untuk masuk membenahi setiap proses development and construction, dari hulu hingga ke hilir. Amoda berkomitmen untuk mengefisiensikan setiap proses development and construction, salah satunya dengan mengajak orang-orang berpengalaman yang memiliki keresahan yang sama, untuk ikut bergabung.

Amoda, kata Robin, memantapkan diri untuk menciptakan konstruksi dengan kualitas yang tinggi, untuk bisnis dan perorangan. Mereka menjawab semua keresahan yang ada dengan merilis produk secara bertahap, dimulai dari peluncuran ErgaPods, yang berfungsi guna mengefisienkan investasi dan properti.

Selain memiliki ErgaPods, Amoda juga meluncurkan ErgaBox untuk skala bisnis yang lebih kecil. Maka itu, mereka berani mengklaim bahwa perusahaannya mampu menyentuh kebutuhan pebisnis UMKM yang ingin memaksimalkan lahan yang ada, untuk mencapai laba yang memuaskan.

Sebagian besar pemilik UMKM, kata Robin, memiliki fokus penuh terhadap kinerja bisnisnya sehingga seringkali tak punya solusi dari segi penyediaan lahan proporsional bagi tempat usahanya. Dalam kondisi ini, Amoda ingin memfasilitasi para pemilik UMKM sehingga leluasa untuk hanya fokus ke roda bisnis mereka.

“Agar para pemilik UMKM ini tidak tertipu oleh kontraktor-kontraktor bandel dan akhirnya jadi problema,” ujar Robin.

Setelah mengenalkan ErgaPods dan ErgaBox, Amoda saat ini tengah merancang berbagai produk dan layanan yang tak lepas dari tujuan mereka hadir. Sesuai visinya, Amoda ingin meluncurkan produk teknologi yang membantu bisnis untuk mengidentifikasi lokasi mana yang tersedia untuk disewakan dan tepat guna untuk kelanjutan sebuah bisnis.

“Akhir tahun ini kami menargetkan pemasangan 300 unit campuran dari ErgaPods dan ErgaBox,” ujarnya.(k34)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top