Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dedi Mulyadi Minta Pembukaan Objek Wisata Saat Lebaran Jangan Multitafsir

Dikhawatirkan jika mudik diperbolehkan, penularan akan semakin masif terhadap orang tua yang rentan tertular di kampung halaman masing-masing.
Asep Mulyana
Asep Mulyana - Bisnis.com 03 Mei 2021  |  10:17 WIB
Dedi Mulyadi - Istimewa
Dedi Mulyadi - Istimewa

Bisnis.com, PURWAKARTA - Wakil Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengapresiasi kebijakan larangan mudik lebaran 2021 yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. 

Pasalnya, sampai saat ini sebaran Covid-19 di Indonesia masih cukup tinggi sehingga jika mudik tak dilarang khawatir bisa menimbulkan klaster baru ataupun tsunami Covid seperti di India.

"Kebijakan larangan mudik ini bertujuan baik yakni untuk mencegah ledakan penularan Covid-19," ujar politisi Partai Golkar tersebut, melalui rilis yang diterima Bisnis.com, Senin (3/5/2021).

Dedi menyebutkan, penularan Covid-19 saat ini tidak bisa diprediksi dan terdeteksi. Dikhawatirkan jika mudik diperbolehkan, penularan akan semakin masif terhadap orang tua yang rentan tertular di kampung halaman masing-masing.

Akan tetapi, lanjut Dedi, dari satu sisi pemerintah melarang mudik, sisi lainnya ada kebijakan soal pembukaan objek wisata. Dengan asumsi, masyarakat yang jenuh saat libur lebaran akan memilih untuk menghabiskan waktu pergi ke tempat wisata. Karenanya, tempat-tempat wisata dibuka selama libur lebaran.

Menurut dia, kondisi ini seharusnya diperjelas lagi supaya tidak ada multitafsir, terutama di kalangan masyarakat. Jangan sampai, sambung Dedi, tempat wisata yang boleh dikunjungi adalah tempat wisata di luar daerahnya. 

"Misalnya, tempat wisata di Bandung bisa dikunjungi oleh wisatawan dari Jakarta, Bekasi, Tangerang dan lainnya. Nah kalau ini dibuka, diberlakukan, ya enggak ada artinya itu larangan mudik," ujar Dedi.

Menurutnya dengan dibukanya tempat wisata ini membuat mobilitas masyarakat meningkat sehingga larangan mudik tersebut dirasa akan sia-sia. Sebab, di tempat wisata akan berkumpul orang dari banyak daerah tanpa mengenal berasal dari zona aman, zona merah atau zona hitam. 

"Pada akhirnya orang datang sehat bisa tertular dengan mereka yang terpapar Covid-19 tanpa gejala, sepulang dari tamasya," jelasnya. (K60)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mudik Lebaran
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top