Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Petani Garam di Cirebon Sulit Terapkan Teknik Geomembran

Petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengaku sulit menerapkan teknologi geomembran untuk produksi garam.
Hakim Baihaqi
Hakim Baihaqi - Bisnis.com 06 April 2021  |  11:49 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, CIREBON - Petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengaku sulit menerapkan teknologi geomembran untuk produksi garam. Saat ini, para petani masih terapkan teknik konvensional yang sudah dilakukan sejak lama.

Petani garam di Kecamatan Pangenan Rahmat menyebutkan teknik produksi garam menggunakan bisa meningkatkan kualitas, lantaran kadar garam lebih tinggi, putih, dan bersih.

"Teknik geomembran ini juga membuat masa produksi dan panen berlangsung cepat," kata Rahmat di Kabupaten Cirebon, Selasa (6/4/2021).

Rahmat menyebutkan, harga satu gulungan geomembran 4x40 meter persegi dijual dengan harga Rp2,5 juta. Luas tambak garam yang ia miliki seluas 1 hektare, ini artinya dibutuhkan 30 gulung geomembran.

Untuk meningkatkan kualitas produksi, kata Rahmat, ia mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah. Sehingga nantinya, garam produksinya diminati.

"Saya mengakui, garam saya memang belum memiliki kualitas tinggi," kata Rahmat.

Petani garam lainnya Junaedi menyebutkan kalau kualitas garam petani di Cirebon semakin meningkat, pemerintah pusat nantinya tidak lagi harus menerapkan kebijakan impor.

Junaedi menyebutkan, harga garam saat ini terbilang anjlok, yakni Rp150 per kilogram. Pengakuan Junaedi, harga garam di Cirebon tertinggi hanya Rp1.500 per kilogram.

"Semoga lebih banyak bantuan geomembran dan tepat sasaran," katanya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) belum lama ini memutuskan akan melakukan impor garam sebanyak 3,07 ton.

Impor garam yang diputuskan tahun ini sebenarnya kebih kecil dari proyeksi kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,6 juta ton dengan kebutuhan industri sekitar 3,8 juta ton di antaranya.

Berdasarkan neraca garam 2020, volume garam impor berkontribusi hingga 50,29 persen dari ketersediaan garam nasional. Kebutuhan garam nasional tahun lalu sebesar 4,46 juta ton dengan kebutuhan industri mencapai 83,86 persen atau 3,74 juta ton.

Hingga akhir 2020, garam dari petambak domestik diramalkan akan mencapai 2,8 juta ton seangkan stok garam lokal dari 2019 mencapai 2,1 juta ton. (K45)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cirebon
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top