Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berawal dari Iseng, Minivelo Tembus Pasar Dunia

Berawal dari keisengan ‘memutilasi’ sepeda gunung di bengkel miliknya yang kini dinamai MV Corp Bandung, Feri malah sukses menembus pasar mancanegara.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 31 Maret 2021  |  13:17 WIB
Minivelo
Minivelo

Bisnis.com, BANDUNG - Pada akhir 2018 Feri Soemantri, warga Jalan Cibogo Desa Sukamukti Kecamatan Katapang, memulai usaha sepeda custom secara tidak sengaja. Berawal dari keisengan ‘memutilasi’ sepeda gunung di bengkel miliknya yang kini dinamai MV Corp Bandung, Feri malah sukses menembus pasar mancanegara.

Mulanya, sepeda buatan rancangan Feri banyak dilihat oleh teman-temannya yang juga hobi bersepeda. Namun, siapa sangka, banyak teman sesama penggemar sepeda yang memesan sepeda custom kepadanya. Sepeda yang ia buat, memiliki keunikan secara ukuran dan bentuk, lebih mungil dari sepeda pada umumnya. Minivelo, itulah jenis sepeda yang dibuat dibuat Wa Fey panggilan akrabnya.

“Minivelo memang belum familiar di kalangan penggemar sepeda dibanding jenis sepeda lainnya, seperti mountain bike (MTB) atau sepeda balap,” terang Wa Fey di rumah produksinya beberapa waktu lalu.

Desain Minivelo maupun ukuran ban sepeda yang dibuat, ia serahkan sepenuhnya kepada pemesan. Tak hanya dari dalam negeri, dipasarkan secara online, pesanan pun datang dari luar negeri seperti Filipina dan Australia.

Untuk 1 unit Minivelo dibanderol mulai Rp5 juta hingga Rp24 juta, tergantung desain dan spesifikasinya. Dalam sebulan, MV Corp Bandung bisa memproduksi 30 unit sepeda atau 1 unit per harinya.

Penjualannya sementara ini, tutur Wa Fey, hanya lewat online dan dari mulut ke mulut. Kini ia mempekerjakan 11 orang karyawan untuk membantu usahanya. Saat pandemi, di mana sepeda makin banyak diminati masyarakat, permintaan sepeda jenis Minivelo semakin meningkat.

“Saya bikin sepeda itu tujuan utamanya supaya lebih banyak lagi orang yang hobi bersepeda. Tapi saya berharap hobinya ini bukan hanya ikut-ikutan tren karena sedang booming saja. Saya ingin hobi ini berkelanjutan, minimal di samping untuk kesehatan kita juga ikut berusaha mengurangi polusi udara,” tutur Wa Fey.

Dalam memproduksi Minivelo, saat ini ia terkendala harga komponen yang terlalu mahal. Namun ia menyadari, hal itu dikarenakan semakin menjamurnya orang yang hobi bersepeda sehingga permintaan meningkat dan komponen sulit didapat.

“Saya sih fokus ingin bikin sepeda yang tidak mahal. Tapi dengan harga komponen yang tinggi, jadi agak sulit dan mau tidak mau harganya jadi mahal. Padahal pertama bikin sepeda itu harganya bisa di bawah Rp4 juta,” kisahnya.

Menurut dia, Minivelo cenderung lebih gesit, irit energi saat dikayuh, dan lebih ringan saat menjajal tanjakan dibanding sepeda jenis lainnya. Bukan dari cerita orang, Wa Fey lebih dulu telah mencoba sendiri minivelo pertama yang ia buat. Tak tanggung-tanggung, ia menjajal Minivelo dari Bandung ke area Puncak di Bogor.

“Saya tertarik memproduksi sepeda, karena bersepeda itu bukan jenis hobi musiman. Saya yakin hobi ini langgeng. Peminatnya meningkat saat pandemi, tapi andai pandemi berakhir pun, orang yang sudah merasakan kenikmatan bersepeda akan tetap bertahan. Mungkin berkurang, tapi hilang itu ga mungkin,” pungkas Wa Fey. (k34)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sepeda industri kreatif
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top