Tips Agar ASN tidak Tersandung Ujaran Kebencian di Media Sosial

Kementerian Dalam Negeri menekana pentingnya ASN bijak bermedia khususnya media sosial agar tidak terjerumus dalam hate speech (ujaran kebencian) dan hoax (hoaks/berita bohong).
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  11:27 WIB
Tips Agar ASN tidak Tersandung Ujaran Kebencian di Media Sosial
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com,BANDUNG—Kementerian Dalam Negeri menekana pentingnya ASN bijak bermedia khususnya media sosial agar tidak terjerumus dalam hate speech (ujaran kebencian) dan hoax (hoaks/berita bohong).

Kepala Biro Hukum Kemendagri R. Gani Muhamad melihat fenomena Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terjerat kasus ujaran kebencian sebagai ketidakpahaman yang bersangkutan atas posisinya sebagai ASN.

“Tentu kita sebagai ASN ada aturan-aturan, etika, kode etik yang harus kita jaga karena kita bagian dari pemerintah. Seharusnya kita menyuarakan program-program pemerintah yang baik, bantu suarakan dan redam ujaran kebencian (yang ditujukan pada pemerintah) seperti itu,” katanya dalam rilis Humas Jabar, Rabu (4/12/2019).

“Di satu sisi kita tidak menghilangkan peran kita di dalam ‘keyakinan’, tetapi kita juga membantu menyuarakan (kebaikan) di mana kita mengabdi. Itu sikap yang harus diambil oleh seorang ASN,” katanya.

Gani juga menjelaskan beberapa tahapan jika seorang ASN kedapatan melakukan tindakan ujaran kebencian. Menurutnya, ASN bisa kena aturan disiplin, mulai dari teguran ringan, teguran berat, hingga pada skorsing dan pemberhentian. “Semua organisasi pasti memiliki aturan mainnya sendiri-sendiri, tugas kita adalah mengikutinya,” ujar Gani.

Secara pembinaan, Gani mengaku melakukannya secara berjenjang, dari level pimpinan hingga ke bawah. “Kita kasih pemahaman, jangan sampai memaksakan idealisme atau ideologi ke tempat kita mengabdi. Semua harus balance, kita cari titik temunya,” tambahnya.

Sebagai ASN, menurut Gani, tidak ada pembatasan hak untuk mengeluarkan pendapat, namun ASN harus sadar diri pada saat kita terikat dalam suatu organisasi ada aturan yang membatasi, itu konsekuensi logis. “Mengeluarkan pendapat itu kalau memang sekiranya perlu disampaikan ya sampaikan, namun dengan cara yang etis. Kalau cara penyampaian kita sesuai etika, orang ngga akan tersinggung,” paparnya.

ASN dan ujaran kebencian diakui Gani menjadi fokus perhatian utama pemerintah pusat saat ini. Karena menurutnya ini adalah salah satu tindakan preventif.

Menurutnya, dari hal yang kecil harus diantisipasi jangan sampai menjadi hal yang besar akan sulit mengobatinya karena sudah mengakar. Pihaknya menaruh perhatian besar pada hal ini, saling mengingatkan dari level pimpinan hingga terus ke bawah, agar menyelenggarakan pemerintahan ini dengan sejuk.

Gani lebih lanjut memberikan tips untuk ASN dalam bermedsos. “Bijak, saring sebelum sharing, dan kalau memang ada yang perlu dikritik sampaikan dengan cara-cara yang etis dan pantas. Jika tidak, lebih baik simpan saja dalam hati,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hoax

Editor : Ajijah
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top