Kisah Santana, Warga Bandung yang Selamat di Wamena

Santana, 47, Warga Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung menjadi satu di antara banyak pengungsi kerusuhan Wamena yang dievakuasi kembali daerahnya.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  20:23 WIB
Kisah Santana, Warga Bandung yang Selamat di Wamena
Santana, 47, Warga Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung menjadi satu di antara banyak pengungsi kerusuhan Wamena yang dievakuasi kembali daerahnya. - Bisnis/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG — Santana, 47, Warga Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung menjadi satu di antara banyak pengungsi kerusuhan Wamena yang dievakuasi kembali daerahnya.

Masih hangat di benak Santana, bagaimana kerusuhan pecah saat dirinya sedang mempersiapkan diri untuk bekerja. Wamena yang tenang, berubah menjadi lautan huru-hara dengan rentetan pembakaran rumah dan gedung di sekitar tempatnya bekerja.

Santana yang sudah 3 tahun merantau ke Papua mengadu nasib sebagai juru masak di salah satu restoran di Wamena. Nahas, Wamena yang ia kenal 3 tahun sebagai daerah yang ramah dan menenangkan, berubah perangai yang mencekam dan tidak akan pernah ia lupakan.

Singkat cerita, Santana seperti biasa setiap pagi mempersiapkan diri untuk memasak. Dor, dor, dor.. dengar Santana dari balik dapur tempat ia bekerja. Pikirnya, itu tembakan polisi untuk membubatkan dua kelompok pelajar yang terlibat tawuran.

“Karena memang di jalan utama ada dua kelompok pelajar yang seakan tengah tawuran,” kata Santana seraya kembali mengingat rentetan kejadian memilukan itu.

Tak pikir panjang, Santana bersama sang anak, Yuda serta pegawai restoran lain langsung melompat melewati benteng bangunan untuk menghindari kerusuhan.

Saat itu, sejauh pelupuk mata Santana melihat, bangunan, gadung, dan fasilitas umum lain ludes terbakar dibakar massa. Tak lama, ia mengamati, Santana bersama warga pendatang yang bekerja di sana berhamburan ke arah hutan.

Lalu, di tengah pelarian, nafas Santana tak lagi prima untuk terus berlari. Tak jauh dari sana, ia melihat ada perumahan warga asli Wamena baik hati yang menyembunyikan mereka ke dalam rumahnya.

“Saat itu kami disuruh bersembunyi di rumah warga asli Wamena,” ungkap dia.

Selang beberapa jam, kondisi semakin mencekam, warga-warga lokal Wamena pun berhamburan menyelamatkan diri. Gelagat tak beres, kemudian Santana dan kawan-kawan memutuskan kembali berpindah tempat. Mereka berlari masuk lebih jauh ke dalam hutan menghindari kerusuhan.

“Lalu saya menemukan satu rumah warga pendatang, di sana ada sekitar 15 orang berkumpul di halaman rumah,” kata dia.

Di sana, Santana dan kawan-kawan yang sudah berusaha terus berlari mulai pasrah. Mereka menguatkan doa untuk keselamatan masing-masing. Bahkan, di benak Santana, kematian sudah di ujung tanduk, ia menganggap jikapun dirinya selamat, itu semata-mata berkat pertolongan tuhan.

5 jam berselang, ia melihat secerca harapan dari petugas yang berpatroli mencari warga pendatang yang tertahan di kawasan tersebut. Mereka pun akhirnya dievakuasi ke kantor polisi.

Namun, perjalanan Santana tidak sampai di sana. Serangan terus bermunculan ke arah kantor polisi tersebut. Akhirnya ia kembali dievakuasi ke rumah bosnya, pemilik restoran. Di sana Santana merasa sedikit aman lantaran ada Kopasus yang ikut berjaga.

“Di sana bos saya orang Medan, hanya kebetulan di rumahnya ada Kopasus yang berjaga,” kata dia.

Selang beberapa hari kemudian, akhirnya mereka dilarikan ke Bandara untuk dievakuasi ke daerahny masing-masing.

“Hampir seminggu kami terus berlati dan bersembunyi,” kata Santana.

Setelah kejadian ini, Santana memilih untuk terlebih dahulu memulihkan kondisi psikologi dirinya dan anaknya, Yuda.

Di ingatan Santana, gelimang mayat dan gelontoran darah masih melekat, seakan teriakan dan kejar-kejaran saat itu masih ia rasakan. (K34)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pemkot bandung

Editor : Ajijah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top