Negara OKI Belajar Rantai Pendingin Vaksin ke Bio Farma

Negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melakukan kunjungan ke pusat produksi dan distribusi vaksin PT Bio Farma (Persero), Rabu (02/10/2019).
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  17:21 WIB
Negara OKI Belajar Rantai Pendingin Vaksin ke Bio Farma
Direktur Operasi PT Bio Farma (Persero) M.Rahman Roestan memberikan sambutan bagi delegasi negara OKI dalam pelatihan manajemen rantai pendingin vaksin di Kantor Pusat Bio Farma, Bandung, Rabu (02/10/2019). - Bisnis/Hadijah Alaydrus

Bisnis.com, BANDUNG--Negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melakukan kunjungan ke pusat produksi dan distribusi vaksin PT Bio Farma (Persero), Rabu (02/10/2019).

Delegasi OKI yang terdiri dari 16 orang perwakilan dari 16 negara bermaksud untuk mempelajari proses manajemen rantai pendingin (cold chain) bagi produk vaksin.

Direktur Operasi PT Bio Farma (Persero) M. Rahman Roestan mengungkapkan program kunjungan ini merupakan kerja sama antara negara-negara OKI, di mana Indonesia telah ditunjuk sebagai pusat pengembangan vaksin dan bioteknologi.

Dari 57 negara anggota OKI, hanya Indonesia dan Sinegal yang saat ini mampu memproduksi vaksin dan telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dibandingkan Sinegal, Indonesia telah memproduksi lebih banyak jenis vaksin. Seperti diketahui, Indonesia memiliki lisensi untuk memproduksi 14 vaksin dasar. Sementara itu, Sinegal hanya memproduksi dua jenis vaksin.

"Oleh karena itu, Indonesia diharapkan bisa membagi pengalaman untuk kemandirian produksi vaksin negara-negara OKI," ujar Rahman di sela-sela kunjungan, Rabu (02/10/2019).

Program kunjungan ini merupakan bagian knowledge sharing jangka pendek dalam rangka memberikan pengetahuan tentang pengemasan vaksin dan manajemen rantai pendingin vaksin. Selain program jangka pendek ini, Bio Farma juga melakukan program jangka menegah yang mencakup transfer teknologi kepada negara-negara OKI.

Dalam program transfer teknologi tersebut, perusahaan akan mengirimkan para ahli vaksin ke negara-negara OKI yang berminat. Saat ini, salah satu negara yang tengah intensif melakukan transfer teknologi dengan Bio Farma adalah Arab Saudi.

"Bio Farma menyiapkan bahan aktifnya, di kirim ke Saudi Arabi dan diproduksi di sana untuk kebutuhan vaksin di negara-negara teluk," kata Rahman. Adapun, vaksin yang diproduksi di Saudi Arabia yaitu tetanus dan difteri.

Rahman menjelaskan Arab Saudi hanya menjalankan hilirisasi, sementara proses hulu masih dikerjakan oleh Bio Farma. Artinya, semua bahan aktif masih dikirim dari Indonesia. Arab Saudi hanya melakukan proses formulasi dan pengepakan.

"Kalau untuk upstream, karena sangat complex, mereka percayakan itu pada Indonesia, sehingga kita tetap menyiapkan produk setengah jadi atau bahan aktifnya untuk dikirim ke Arab."

Dengan lisensi atas 14 vaksin dasar, Bio Farma aktif melakukan ekspor vaksin ke seluruh dunia. Sekitar dua per tiga kebutuhan vaksin polio dunia, didatangkan dari perusahaan.

Menurut Rahman, sekitar 50% kapasitas produki vaksin Bio Farma diperuntukan bagi pasar ekspor. Umumnya, pasar ekspor Bio Farma adalah negara-negara berkembang seperti India dan negara-negara Timur Tengah.

Saat ini, produk vaksin polio merupakan salah satu yang banyak diekspor. Pasalnya, negara-negara berkembang yang mengalami konflik, seperti Afghanistan, Pakistan dan Nigeria, masih banyak dijangkiti oleh penyakit polio.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bio farma

Editor : Ajijah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top