Unisba Bantah Akomodir Aksi Demo, Akui Hanya Berikan Pertolongan

Wakil Rektor 3 Universitas Islam Bandung (Unisba) Asep Ramdan Hidayat mengaku tidak menyiapkan secara khusus kampusnya sebagai titik evakuasi demonstran yang menjadi korban kericuhan demonstrasi penolakan RUU bermasalah.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 24 September 2019  |  20:03 WIB
Unisba Bantah Akomodir Aksi Demo, Akui Hanya Berikan Pertolongan
Wakil Rektor 3 Unisba Asep Ramdan Hidayat - Bisnis/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG — Wakil Rektor 3 Universitas Islam Bandung (Unisba) Asep Ramdan Hidayat mengaku tidak menyiapkan secara khusus kampusnya sebagai titik evakuasi demonstran yang menjadi korban kericuhan demonstrasi penolakan RUU bermasalah.

Untuk diketahui, sejak Senin (23/9), Unisba menjadi titik evakuasi korban akibat kericuhan yang terjadi antara ribuan massa mahasiswa dengan aparat kepolisian.

Berdasarkan data yang dihimpun relawan, jumlah korban kericuhan pada hari Senin lalu berjumlah 92 korban. Dan korban bertambah pada demonstrasi hari ini, yakni 107 korban dan 6 di antaranya dirujuk ke rumah sakit.

Pihaknya mengaku kampusnya menjadi titik evakuasi adalah insidental, dimana banyaknya korban berjatuhan akibat bentrok yang terjadi tidak mungkin diberikan pertolongan pertama di lokasi kejadian karena berisiko.

“Intinya kami tidak menyiapkan secara khusus, namun kami berkewajiban memberikan pertolongan pertama kepada mahasiswanya yang menyelamatkan diri,” kata dia di Gedung Rektorat Unisba, Kota Bandung, Selasa (24/9).

Namun, setelah diidentifikasi, banyak juga mahasiswa yang berasal dari kampus lain. Meski demikian, pihaknya tidak mungkin mengusir para mahasiswa lain yang terluka sehingga pihaknya pun memberikan pertolongan yang sama.

Terlebih, kampusnya dinilai menjadi kampus terdekat dengan lokasi demonstrasi yakni di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat.

Sejak kemarin, kata dia, banyak mahasiswa yang terluka tidak hanya berasal dari kampus di Bandung Raya, tapi juga daerah lain di Jawa Barat.

Jauh dari pada itu, Asep menilai aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa adalah proses penyampaian pendapat yang dijamin oleh undang-undang. Sehingga tidak ada salahnya mahasiswa mengemukakan pendapat atas realita yang tidak sesuai dengan apa yang ada pada keilmuannya.

“Ini adalah kewajiban intelektual, saat mereka melihat apa yang terjadi di lapang tidak sesuai dengan yang mereka pahami,” ungkap dia.

Sehingga ia meyakini, dengan proses demokrasi ini maka beberapa yang saat ini melakukan demonstrasi, di masa yang akan datang pasti akan menjadi pemimpin.

“Saya yakin dari ribuan massa yang berdemo, beberapa akan menjadi pemimpin bangsa 10-15 tahun ke depan,” jelas dia. (K34)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
demo

Editor : Ajijah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top