Startup Coffee on-Demand Akan Agresif Tahun Ini

Langkah bisnis penyedia layanan coffee on-demand tampaknya akan cukup agresif tahun ini, memanfaatkan momentum pertumbuhan penikmat kopi yang semakin tinggi di dunia.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  11:33 WIB
Startup Coffee on-Demand Akan Agresif Tahun Ini
Luckin Coffee (Reuters)

Startup Coffee on-Demand Akan Agresif Tahun Ini

Bisnis.com, BANDUNG—Langkah bisnis penyedia layanan coffee on-demand tampaknya akan cukup agresif tahun ini, memanfaatkan momentum pertumbuhan penikmat kopi yang semakin tinggi di dunia.

Perusahaan penyedia layanan coffee on-demand asal China Luckin Coffee berencana untuk mengumpulkan modal US$590 juta melalui penawaran umum perdana saham atau IPO dalam rangka mengambil alih dominasi Starbucks di China.

Model bisnis Luckin Coffee tidak sepenuhnya sama dengan Starbucks, tetapi valuasi Luckin Coffe ini tampaknya sangat tinggi, sekitar US$4 miliar.

Pendiri Luckin Coffee, yakni Qian Zhiya, mengembangkan perusahaan ini dengan sangat cepat dari hanya sembilan gerai pada 2017 menjadi lebih dari 2.000 pada akhir Maret 2019.

Perusahaan ini berhasil menarik banyak pelanggan di China dengan strategi membakar uang melalui banyak diskon besar dan mengundang selebriti untuk mempromosikan produknya.

Akibatnya, perusahaan mencatat kerugian bersih US$475 juta yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham pada akhir tahun lalu.

Langkah Luckin Coffee yang ingin segera IPO ini juga bukan langkah yang popular di kalangan startup. Luckin Coffee rupanya ingin mendapatkan tambahan modal untuk menggarap pasar penikmat kopi yang semakin bertumbuh di China.

Mereka menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan penikmat kopi yang ingin mendapatkan minuman kopi berkualitas dalam perjalanan. Caranya, dengan mengoptimalkan layanan pemesanan secara online melalui aplikasi.

Luckin Coffee terus membuka gerai baru, tetapi juga meningkatkan layanan pemesanan melalui aplikasi yang bertujuan sekaligus untuk mengumpulkan data dan meningkatkan loyalitas pelanggan.

Pada akhir 2019, Qian berencana untuk memiliki lebih dari 4.500 toko di daratan China, lebih banyak dibandingkan Starbucks yang memiliki sekitar 3.600. Starbucks membuka sekitar 600 outlet per tahun.

Sejatinya, memperbandingkan antara Luckin Coffee dan Starbuck tidak sepenuhnya sempurna. Pasalnya, Starbucks sudah terbukti menguntungkan, sedangkan Luckin belum.

Terlebih lagi, Luckin dibangun dengan konsep penjualan kopi untuk dikirim atau dibawa pulang oleh pelanggan, sehingga toko-tokonya relatif kecil.

Starbucks juga menyasar peluang dari model itu dengan meminta bantuan Alibaba, tetapi Starbucks lebih fokus pada menyediakan ruang yang nyaman bagi pelanggan untuk menyesap kopi mereka.

Di satu sisi, Luckin Coffee mungkin terlihat murahan. Starbucks bernilai sekitar US$3 juta per toko dengan kapitalisasi pasar US$90 miliar.

Bila menghitung dengan cara yang sama, hampir 2.400 unit gerai Luckin akan bernilai sekitar US$7 miliar. Nilai ini 75% lebih tinggi dibandingkan batas atas yang disarankan bagi kisaran harga IPO Luckin Coffee, yakni US$17 per saham depository Amerika.

Pada saat yang sama, setiap toko Starbucks menghasilkan rata-rata sekitar US$800.000 pendapatan pada akhir tahun 2018, atau lebih dari 12 kali lebih banyak dari Luckin Coffee.

Menjalankan operasi dua model bisnis sekaligus, yakni offline dan online, mungkin secara operasional lebih murah daripada menyediakan kafe yang nyaman di persimpangan yang sibuk.

Meski begitu, subsidi dan promosi Luckin akan tetap berjalan tinggi untuk sementara waktu. Semua mengatakan, penjualan saham ini terlihat terlalu ‘berkafein’.

Fore Coffee

Adapun, model bisnis serupa Luckin Coffe ini mulai diadopsi juga oleh startup dalam negeri dengan brand Fore Coffe. Hingga Maret 2019, Fore Coffe sudah memiliki 35 outlet. Aplikasi pemesanan Fore Coffee sendiri baru diluncurkan pada Desember 2018 lalu. Fore Coffe menargetkan 100 gerai hingga akhir Juni 2019.

Ini jelas lebih agresif dibandingkan Starbucks di Indonesia yang baru memiliki 364 gerai setelah 17 tahun beroperasi di Indonesia. Sama seperti Luckin Coffee, Fore Coffee pun ingin menyaingi posisi Starbucks di dalam negeri.

Fore Coffee semakin percaya diri setelah pada Januari 2019 lalu berhasil mengantongi pendanaan total senilai US$9,5 juta atau sekitar Rp134 miliar. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan angka penawaran awal sebesar US$8,5 juta atau sekitar Rp120 miliar.

Dua bulan setelah mendapatkan pendanaan tersebut dan terutama sejak aplikasinya beroperasi, Fore Coffe mencatatkan peningkatan penjualan signifikan, dari semula sekitar 19.000 gelas kopi per bulan menjadi 300.000 gelar per bulan, atau rata-rata 10.000 gelas per hari.

Dari total penjualan tersebut, sekitar 85% merupakan penjualan yang dipesan melalui aplikasi dan diantar kepada pelanggan. Peningkatan penjualan ini tentu turut berimbas pada mitra petani kopi. Fore Coffee rata-rata membeli 6,5 ton biji kopi setiap bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar jabar

Sumber : Reuters
Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top