Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

FFPM 2022 di Kota Bandung Bahas Tantangan Terkini Industri Migas

pemerintah pusat dalam hal ini SKK Migas bisa melibatkan pemerintah daerah dalam memaksimalkan potensi migas di daerah untuk terus menjaga ketahanan energi.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 19 Oktober 2022  |  14:58 WIB
FFPM 2022 di Kota Bandung Bahas Tantangan Terkini Industri Migas
SKK Migas bersama dengan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) kembali menyelenggarakan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) di Hotel Pullman Kota Bandung pada 18/20 Oktober 2022.
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG--SKK Migas bersama dengan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) kembali menyelenggarakan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) di Hotel Pullman Kota Bandung pada 18-20 Oktober 2022.

Pada hari pertama, acara dibuka Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil selaku tuan rumah sekaligus ketua Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET).

FFPM yang mewadahi para pelaku migas di Indonesia menghadirkan berbagai tokoh penting diantaranya Dwi Soetjipto (Ketua SKK Migas), Taufik Aditiyawarman (Ketua Umum IAFMI) secara daring, dan juga Tutuka Ariaji (Dirjen Migas) mewakili Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ketua Umum IAFMI Taufik Aditiyawarman mengatakan, FFPM tahun ini mengusung tema “Recovering and Transforming the Industry” .

Tema ini dipilih sebagai upaya merespons kondisi industri migas terkini yang menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan demand seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian dunia pascapandemi Covid-19.

“Kita pelaku migas sekitar 700an orang kembali berkumpul di Kota Bandung setelah 2 tahun terhenti akibat pandemi,” kata Taufik dalam keterangannya, Rabu (19/10/2022).

Menurutnya, IAFMI sebagai inisiator utama FFPM, berkomitmen untuk terus mendorong berbagai terobosan berbasis rekayasa teknologi dalam mendukung usaha sektor migas serta menciptakan iklim yang kondusif mendukung kegiatan usaha sektor energi dan fasilitas produksi migas dari hulu ke hilir.

Dirjen Migas Tutuka Ariaji memaparkan berbagai kondisi dan tantangan yang dihadapi sektor migas di Indonesia. Ia mengatakan bahwa produksi minyak terus mengalami penurunan seiring dengan menipisnya cadangan minyak nasional.

Hal yang sama juga terjadi di sektor gas. Untuk menghadapi situasi ini, ia bersama jajarannya di Kementrian ESDM terus berkoordinasi dan berdiskusi dengan para stakeholder IAFMI agar pasokan minyak dan gas tetap aman dan mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Tantangan lainnya di sektor migas Indonesia adalah berkaitan dengan fasilitas produksi migas yang sudah di luar masa produktif (lebih dari 20 tahun).

Oleh karenanya, diperlukan investasi massif dalam rangka memperbaiki alat produksi migas, di samping melakukan tindakan perawatan dan pencegahan agar alat produksi yang mendekati masa habis usia produktif tetap terjaga performanya sambil menunggu proses pembaruan fasilitas.

Sementara itu Ridwan Kamil mengatakan pemerintah pusat dalam hal ini SKK Migas bisa melibatkan pemerintah daerah dalam memaksimalkan potensi migas di daerah untuk terus menjaga ketahanan energi secara nasional.

Salah satu contoh adalah keterlibatan Migas Utama Jabar (MUJ) dalam mengelola Participacing Interest (PI) di Pertamina Hulu Energi ONWJ.

"Walaupun untuk perusahaan besar (hal ini) mungkin receh, tapi buat BUMD ini sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Puluhan atau ratusan miliar ini besar sekali," kata pria yang akrab disapa Emil dalam sambutannya.

Selain minyak, potensi gas juga cukup besar, sehingga Emil meminta SKK Migas untuk bisa memprioritaskan pemanfaatan gas. Gas bumi tersebut nantinya bisa digunakan untuk masyarakat sehari-hari menggunakan jaringan gas (jargas).

"Nah kalau jargas ini bisa (dimanfaatkan) akan menjadikan penyerapan tenaga kerja lokal makin banyak. Makanya kami mohon dipahami," terang Emil.

Dwi Soetjipto selaku perwakilan SKK Migas, mengatakan bahwa bangsa Indonesia perlu bersiap siaga menghadapi 3 hal yang menjadi situasi global, yakni ancaman resesi, transisi energi dari fosil menjadi energi terbarukan, dan energy security kaitannya dengan prospek Liquid Natural Gas (LNG).

Menurutnya, tantangan terbesar industri migas saat ini, khususnya di Indonesia, adalah profil fasilitas produksi migas yang 69% diantaranya sudah berusia di luar masa pakainya (lebih dari 30 tahun).

Di sisi lain, aktivitas utama migas di tahun 2022 ini menunjukkan ada peningkatan baik dari segi eksplorasi maupun eksploitasi. Itu artinya, diperlukan berbagai langkah agar produksi migas tetap berjalan lancar tanpa adanya hambatan berarti.

Permasalahan utama yang menjadi penghambat produksi migas juga perlu segera diatasi, yaitu masalah pipeline (instalasi pipa) dan sistem kelistrikan.

FFPM 2022 di Kota Bandung terbagi dalam 3 agenda besar yang diselenggarakan dalam kurun waktu 3 hari mulai dari 18 hingga 20 Oktober 2022. Format acara diskusi yang dihadirkan FFPM sangat beragam mulai dari diskusi panel, diskusi teknis (Break Out Sessions) hingga business forum. Panel sesi pertama akan membahas mengenai Long Term Plan industri hulu dan hilir, utamanya fasilitas produksi migas.

Kemudian sesi diskusi panel selanjutnya membahas tentang proses pemulihan (recovery) industri migas pasca pandemi Covid 19. Diskusi panel terakhir atau yang ketiga akan membahas mengenai teknis operasi yang prima (operations excellence) para pelaku industri migas.

Selain menghadirkan diskusi antar pemangku kepentingan industri migas, FFPM 2022 juga menghadirkan pameran yang diisi hingga 30 booth, dan juga sesi technology update yang menampilkan kemajuan teknologi terkini dari para penyedia barang dan jasa yang menjadi mitra FFPM.

FFPM sendiri adalah adalah forum yang mempertemukan para pemangku kepentingan di dunia migas, mulai dari pemegang kebijakan, praktisi, hingga pelaku bisnis migas dari hulu ke hilir, untuk berdiskusi dan berkolaborasi demi merumuskan iklim kegiatan usaha yang kondusif di sektor fasilitas produksi migas.

FFPM diselenggarakan pertama kali pada tahun 2018 dan diinisiasi oleh Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) yang merupakan wadah para profesional tenaga ahli fasilitas produksi minyak dan gas bumi yang dideklarasikan tahun 2013.

FFPM 2022 yang diselenggarakan di Kota Bandung ini merupakan penyelenggaraan yang keempat setelah sebelumnya pada tahun 2018 diselenggarakan di Semarang, 2019 di Yogyakarta, dan terakhir tahun 2021 yang diselenggarakan secara online akibat wabah pandemi Covid 19.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ridwan kamil skk migas migas
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
back to top To top