Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Abah Emang, Sang Pejuang Kemerdekaan Asal Purwakarta yang Luput dari Perhatian

Kondisi kakek berusia lebih dari seabad ini masih tampak sehat, kendati di tubuhnya ada sekitar 10 lubang bekas luka akibat peluru dari tembakan musuh.
Asep Mulyana
Asep Mulyana - Bisnis.com 18 Agustus 2022  |  14:30 WIB
Abah Emang, Sang Pejuang Kemerdekaan Asal Purwakarta yang Luput dari Perhatian
Abah Emang bin Mali, 101 tahun, warga Kampung/Desa Benteng RT 03 - 01, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta.
Bagikan

Bisnis.com, PURWAKARTA - Kemerdekaan Negara Republik Indonesia tak lepas dari hasil perjuangan para pahlawan. Kala itu, tak sedikit dari para pejuang yang gugur di medan perang, tapi ada juga yang hingga saat ini masih dinaungi umur panjang.

Seperti di Kabupaten Purwakarta, mungkin tak banyak yang tahu jika ada salah satu pejuang kemerdekaan RI yang beruntung dan masih sehat hingga saat ini. Adalah Abah Emang bin Mali, 101 tahun, warga Kampung/Desa Benteng RT 03/01, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta.

Kondisi kakek berusia lebih dari seabad ini masih tampak sehat, kendati di tubuhnya ada sekitar 10 lubang bekas luka akibat peluru yang bersarang dari tembakan tentara musuh saat agresi militer Belanda ke II sekitar tahun 1948 silam.

Mungkin tak banyak orang yang tahu dengan cerita haru yang dialami kakek renta ini semasa mudanya. Bahkan, kisah heroiknya itu nyaris luput dari perhatian publik. Saat ditemui di rumahnya, Abah Emang sempat menceritakan kisah pahitnya itu.

Abah Emang memulai ceritanya dari saat dia berusia 20 tahun dan masuk tentara. Itu tepatnya sekitar tahun 1945 silam. Untuk militer, saat dia masuk itu lebih dikenal dengan sebutan Tentara Republik Indonesia (TRI). Saat itu, pangkat Emang masih Pratu dan bertugas di Batalyon 1 Resimen 7 Purwakarta, atau masuk dalam pertahanan TRI wilayah Bandung.

"Di 1948, agresi militer kedua pecah. Abah, bersama puluhan tentara lainnya terlibat baku tembak dengan pasukan Belanda di perkebunan karet di sekitar Kalijati, Kabupaten Subang," ujar Kakek kelahiran 1923 itu bercerita.

Di perkebunan inilah, kisah harunya terjadi. Saat itu, dirinya bersama tiga orang teman satu batalyonnya itu sedang menempuh perjalanan menuju camp-nya di tengah hutan. Di tengah perjalanan, dia bersama pasukannya dikepung dan diberondong peluru milik senapan tentara Belanda.

Alhasil, Bah Emang bersama tiga temannya tersungkur akibat terkena tembakan. Saat itu, tiga temannya gugur. Sedangkan, dirinya masih selamat meskipun telah bersimbah darah akibat 10 peluru yang bersarang ditubuhnya.

"Ada 10 tembakan. Yang paling parah dibagian kaki kiri, kepala dan bahu kiri," kata Emang sembari menunjukan bekas luka tembaknya itu.

Dengan kondisi tak berdaya itu, lanjut Emang, dirinya hanya bisa pasrah kepada Sang Pencipta. Di dalam hatinya, Emang selalu berdoa untuk bisa bertahan hidup. Bahkan, dia berdoa supaya bisa bertemu warga lalu menolongnya.

"Saat tak berdaya itu ada dua orang perempuan melintas. Dengan kondisi sudah tidak bisa apa-apa, Abah minta tolong kepada dua perempuan itu," jelas dia.

Awalnya, kedua perempuan itu ketakutan. Sebab, wajah dan tubuhnya bersimbah darah. Kepada kedua perempuan itu, Emang meminta minum karena tak kuat merasakan panas tak terkira disekujur tubuhnya.

"Saat itu, kedua perempuan tersebut memberi air yang dibawa dengan daun pisang. Setelah meminum air itu, abah meminta ke dua perempuan itu supaya wajah abah ditutupi daun," kata dia.

Tak lama berselang setelah kedua perempuan tersebut pergi dan menutup wajahnya dengan daun, saat itu Emang melihat pasukan Belanda sedang melakukan patroli untuk memastikan bahwa para tentara Indonesia yang tadi dihujani peluru telah gugur seluruhnya. Sontak saja, jantung Emang berdetak kencang.

Bahkan, kata dia, ada dari tentara musuh yang menusuk-nusukan bayonet ke perut dirinya. Beruntung abah tidak memberikan reaksi kala hujaman bayonet tersebut menyentuh badannya, termasuk saat sepatu tentara Belanda itu menginjak wajah abah. Jadi, Abah Emang bisa selamat karena dikira sudah tewas.

Menjelang maghrib, Abah Emang baru mendapatkan pertolongan. Salah seorang warga, yakni atas nama Main menemukannya dan kemudian membawanya ke satu tempat ditengah hutan. Setelah mendapat pertolongan, Abah Menag tak sadarkan diri selama 40 hari.

Seiring berjalannya waktu, luka di tubuh Emang mulai berangsur sembuh. Tepatnya pada 1950, Emang memilih pensiun dini jadi tentara. Karena, melihat dari kondisi badannya yang sudah tak memungkinkan lagi melanjutkan untuk menjadi tentara. Saat ini, hanya bekas luka tembakan yang menjadi satu kenangan pahitnya.

Dia juga menyebutkan beberapa kali terlibat pertempuran di Bandung, Cikalongwetan dan Purwakarta. Semua yang dilakukannya itu sebagai bentuk perjuangan merebut kemerdekaan. Bahkan, ia pun beberapa kali ditugaskan melakukan pengintaian di sekitar daerah Sasak Saat dengan berbekal senjata laras panjang

Belum lama ini, kediaman Abah Emang disambangi Anggota DPR RI Dedi Mulyadi. Secara gamblang, Abah Emang pun menceritakan pengalaman hidupnya selama berjuang melawan penjajah kepada Kang Dedi.

Mendengar cerita dari Bah Emang, Dedi pun takjub sekaligus bersyukur masih bisa bertemu dengan veteran pejuang Kemerdekaan RI. Sebab pelaku-pelaku sejarah saat ini sudah banyak yang tiada.

"Itu kaki kirinya infeksi ya bah?," ujar Dedi seraya menunjuk ke luka bekas peluru di kaki kirih Bah Emang yang mengalami infeksi.

Sebagai bentuk apresiasi, Dedi pun lantas menghubungi dokter agar datang ke rumah Bah Emang untuk mengobati luka tersebut. Setelah beberapa lama berdialog, Dedi pun sungkem untuk berpamitan. (K60)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

purwakarta pahlawan
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top