Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Permintaan Jahe dari Kabupaten Bandung Melonjak Selama Pandemi Covid-19

Permintaan produk holtikultura berupa jahe dari Kabupaten Bandung mengalami peningkatan selama Pandemi Covid-19.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 02 Agustus 2020  |  12:45 WIB
Permintaan Jahe dari Kabupaten Bandung Melonjak Selama Pandemi Covid-19
Ilustrasi - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG -- Permintaan produk holtikultura berupa jahe dari Kabupaten Bandung mengalami peningkatan selama Pandemi Covid-19.

Kabupaten Bandung sebagai salah satu daerah penghasil holtikultura terbesar di Jawa Barat terus mengakselerasi pemenuhan kebutuhan tanaman obat tersebut baik untuk kebutuhan dalam negeri ataupun ekspor.

Jahe banyak ditanam di Kabupaten Bandung seperti di wilayah Arjasari, Cimaung, Ciwidey, dan Cikancung, sehingga permintaan jahe yang cukup tinggi tersebut menjadi peluang bisnis yang cukup baik di Kabupaten Bandung.

Bupati Bandung Dadang M Naser menyebutkan, jahe sebagai rempah asli Indonesia yang merupakan andalan saat ini, terutama jahe merah. Bahkan ia berharap jahe bisa bersaing dengan ginseng asal Korea.

"Jadi kalau Korea punya ginseng, kita itu punya jahe merah yang kalau disatukan dengan ekstrak pasak bumi, itu bisa terkenal melebihi ginseng Korea, karena khasiatnya yang sangat luar biasa bagi tubuh," ujarnya, Minggu (2/8/2020).

Ia berharap kedepannya para pengusaha yang bergerak di bidang ekspor jahe bisa bekerja sama dengan para petani lokal agar kualitas jahe yang dihasilkan bisa lebih baik lagi.

"Para pengusaha sebagai holding harus bisa bekerjasama dan memperhatikan para petaninya, misalnya diberi pelatihan dari mulai pemilihan bibit, pemupukan, pemeliharaan, dan cara panen yang baik agar hasil panennya maksimal dan kesejahteraan petaninya pun harus diperhatikan," kata Dadang.

Saat ini, para petani jahe di Kabupaten Bandung memang cukup banyak, lanjut Dadang, namun mereka belum menguasai tekhnik pemeliharaan yang baik, hanya secara konvensional, sehingga hasilnya pun hanya seadanya dengan kualitas standar.

"Jadi mereka itu kalau istilahnya "ceb cul", setelah menanam dibiarkan saja, nggak dipelihara, ya hasilnya pun tidak maksimal lah, makanya perlu pelatihan buat mereka," jelasnya.

Sementara itu, Direktur PT AJRA, Jaenudin sebagai pihak eksportir mengatakan bahwa peluang bisnis jahe ini cukup besar, namun mereka belum memiliki petani sendiri. Saat ini mereka mengumpulkan jahe dari para petani lokal yang ada di Kabupaten Bandung, seperti Ciwidey, Arjasari, dan Cimaung dan Cikancung.

"Kita kirim sebanyak 25 ton - 50 ton per minggu, saat ini permintaan dari Kamboja, kalau tahun lalu ke Vietnam dan Bangladesh, ya karena situasi covid-19, jadi ada penambahan permintaan dari negara lain." jelas Jaenudin.

Disaat permintaan jahe sedang tinggi, harganya pun cukup tinggi yaitu Rp 20.000 per kilogram untuk ekspor, sementara harga lokal sekitar Rp 15.000 per kilogram.

Ia berharap kedepan pihaknya bisa bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung terutama Dinas Pertanian untuk bisa membina para petani dan membuat kontrak jangka panjang dengan mereka. (K34)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kabupaten bandung jahe
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
back to top To top