Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menanti Kredit Infrastruktur Meluncur di Kawasan Segitiga Rebana

Sebagai pusat pertumbuhan kawasan industri baru, wilayah Segitiga Rebana [Subang-Kertajati-Cirebon] menjadi tantangan perbankan untuk menggenjot pertumbuhan kredit terutama kredit infrastruktur beberapa tahun ke depan di kawasan tersebut.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 19 Maret 2020  |  13:10 WIB
Tol Cisumdawu membelah kawasan Segitiga Rebana - Bisnis/Rachman
Tol Cisumdawu membelah kawasan Segitiga Rebana - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, BANDUNG--Sebagai pusat pertumbuhan kawasan industri baru, wilayah Segitiga Rebana [Subang-Kertajati-Cirebon] menjadi tantangan perbankan untuk menggenjot pertumbuhan kredit terutama kredit infrastruktur beberapa tahun ke depan di kawasan tersebut.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil jauh-jauh hari sudah memastikan, bahwa membangun infrastruktur di kawasan tidak akan bisa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) semata. Hanya menyumbang sekian persen, menurutnya Jabar kini tengah berupaya membuka pintu-pintu lain sumber anggaran.

“Selain bergantung pada tiga anggaran negara yang meliputi APBD kabupaten/kota, APBD provinsi, dan APBN, Pemda Provinsi Jabar memanfaatkan lima sumber anggaran lain yang disebut dengan Delapan Pintu Anggaran,” katanya awal pekan ini.

Lima sumber anggaran ini meliputi KPBU (Kerjasama Pemerintah Badan Usaha) atau Public Private Partnership (PPP), obligasi daerah, dana perbankan, dana umat, dan dana tanggungjawab sosial perusahaan (CSR). Pihaknya kini tengah memaksimalkan fungsi bjb sebagai bank pembangunan daerah lewat Kredit Infrastruktur Daerah (Kredit Indah) yang siap membiayai pembangunan infrastruktur daerah di Jabar. “Pinjaman bank daerah dan obligasi daerah bisa mempercepat pembangunan,” katanya.

Kawasan Segitiga Rebana sendiri pada tahun lalu menunjukan pertumbuhan yang signifikan bagi industri keuangan. Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mencatat, sektor jasa keuangan di wilayah itu baik perbankan, industri keuangan nonbank (IKNB), mupun pasar modal selama 2019 menunjukan perkembangan positif.

Indikator sektor jasa keuangan di Wilayah III Cirebon yang meliputi Kota-Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan, menunjukkan angka positif pada seluruh sektor. Seperti dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit bank umum di wilayah Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan (Ciayumajakuning) menunjukkan tren positif. Secara year on year (yoy), masing-masing meningkat 9,42 persen dan 9,08 persen.

Rencana Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membangun infrastruktur kawasan khususnya di Rebana sendiri langsung direspon positif Bank bjb. Direktur Utama Bank bjb Yuddy Renaldi mengatakan bahwa pihaknya siap ikut serta membiayai rencana pembangunan di Jawa Barat.

Yuddy menuturkan, bjb melalui Kredit Indah pada 2018 lalu sudah menyalurkan kredit infrastruktur sebesar Rp7,5 triliun, dengan rincian alokasi Rp4,4 triliun untuk Provinsi Jawa Barat."Kami siap ikut serta membiayai pembangunan di wilayah bapak/ibu (bupati/walikota), baik sebagai lead maupun arranger, maupun pembiayaan infrastruktur daerah secara langsung di wilayah masing-masing," kata Yuddy.

Adapun penyaluran kredit infrastruktur segmen korporasi dilakukan dengan pola sindikasi maupun bilateral untuk mendukung proyek-proyek strategis nasional seperti proyek Jalan Tol Elevated Jakarta-Cikampek dan proyek Jalan Tol Kanci-Pejagan dan akses tol Patimban yang masuk kawasan Rebana.

Yuddy menambahkan, target market Kredit Indah ditujukan untuk pemerintah daerah dan BUMD yang memenuhi persyaratan. Terdapat tiga klasifikasi berdasarkan jangka waktu, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka menengah. Perinciannya adalah sebagai berikut:

Jangka pendek: pinjaman daerah dalam jangka waktu kurang atau sama dengan 1 (satu) tahun anggaran dengan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lainnya, yang seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran berjalan. Pinjaman Jangka Pendek digunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas.

Jangka menengah: pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun anggaran dengan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lainnya, yang seluruhnya harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan Kepala Daerah di daerah yang bersangkutan. Pinjaman jangka menengah digunakan untuk membiayai kegiatan prasarana dan/atau sarana pelayanan publik di daerah yang tidak menghasilkan penerimaan daerah.

Jangka panjang: pinjaman daerah dalam jangka waktu pengembalian pinjaman lebih dari 1 (satu) tahun anggaran dengan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lainnya, yang seluruhnya harus dilunasi pada tahun anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman.

Khusus untuk jangka panjang, Yuddy mengatakan, pinjaman jangka panjang diperkenankan melewati masa jabatan kepala daerah dengan ketentuan dalam rangka mendukung prioritas nasional dan/atau kepentingan strategis nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Pinjaman jangka panjang digunakan untuk membiayai infrastruktur dan/atau kegiatan investasi berupa kegiatan pembangunan prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan pelayanan publik yang menjadi urusan pemerintahan daerah, dengan tujuan antara lain menghasilkan penerimaan bagi APBD yang berkaitan dengan pembangunan prasarana dan sarana tersebut, menghasilkan penerimaan tidak langsung berupa penghematan belanja APBD yang seharusnya dikeluarkan apabila kegiatan tersebut tidak dilaksanakan, dan manfaat ekonomi dan sosial," kata Yuddy.

Bank Indonesia perwakilan Bandung memprediksi gesitnya pembangunan infrastruktur di Jawa Barat bisa menumbuhkan kredit sebesar 10% pada 2020 ini. Dari sisi perbankan, kinerja sektor konstruksi membaik yang tercermin dari pertumbuhan penyaluran kredit yang meningkat menjadi 5,32% (yoy) pada triwulan IV 2019, dari sebelumnya sebesar 3,70% (yoy) pada triwulan III 2019.

Lebih baik lagi, peningkatan penyaluran kredit konstruksi tersebut diiringi dengan penurunan NPL pada triwulan IV 2019 menjadi sebesar 8,58. Dengan melihat perkembangan kondisi perekonomian global dan domestik, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2020 diperkirakan sedikit meningkat pada kisaran 4,2%-4,6% (yoy) walaupun kini ada ancaman serius dari merebaknya virus Covid-19.

Dalam kajiannya, Bank Indonesia mencatat lapangan konstruksi pada triwulan I 2020 diperkirakan tumbuh meningkat pada rentang 5,4-5,8% (yoy). Peningkatan ini antara lain dipengaruhi oleh masih berlanjutnya proyek infrastruktur strategis di Jawa Barat khususnya Jalan Tol Bocimi, Tol Cipali-Patimban, Pelabuhan Patimban di kawasan Rebana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jelajah Segitiga Rebana
Editor : Ajijah
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top