Inggris Gandeng Pemkot Bandung Jalankan Proyek Global Future Cities

Pemerintah Inggris bersama Pemerintah Kota Bandung berkolaborasi menjalankan Program Global Kota Masa Depan.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  15:24 WIB
Inggris Gandeng Pemkot Bandung Jalankan Proyek Global Future Cities
Pemerintah Inggris bersama Pemerintah Kota Bandung berkolaborasi menjalankan Program Global Kota Masa Depan. - Bisnis/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG -- Pemerintah Inggris bersama Pemerintah Kota Bandung berkolaborasi menjalankan Program Global Kota Masa Depan.

Program yang akan dijalankan oleh kedua pihak ini adalah pengembangan sistem transportasi umum terintegrasi dan bus lokal yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas transportasi umum melalui transformasi industri dan meningkatkan kapasitas pemerintah dalam manajemen transportasi.

Program ini, dilumcurkan oleh Dubes Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins dan Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana di Gendung Planning Galery, Kota Bandung, Selasa (11/2/2020).

Menurut Owen, Kota Bandung menjadi kota yang penting di Indonesia untuk digandeng dalam hal pengoptimalan transportasi umum.

"Bandung termasuk salah satu kota yang penting di Indonesia, kota yang memiliki sejarah. Kota yang sangat penting untuk memperbaiki problematika di sini. Jika Bandung memiliki urban transportasi yang bagus, urban planning yang tepat, tentu akan menjadi model kota yang baik sehingga kota-kota lain bisa mencontoh Bandung," kata Owen.

Untuk itu, pihaknya siap membantu Kota Bandung untuk menemukan solusi paling tepat dalam menangani permasalahan transportasi publik. Terlebih ia menilai Kota Bandung memiliki kapasitas dalam hal tersebut.

"Kita berharap begitu. Bandung punya kapasitas dan juga kemampuan untuk membangun perencaan kota yang baik dan berkelanjutan dann kita berharap itu bisa jadi model untuk kota lainnya," ungkapnya.

Kota lainnya yang ikut bersama Pemerintah Inggris dalam hal pengoptimalan sistem transportasi umum dan tata kota adalah Kota Surabaya. Menurutnya meski sama-sama merupakan kota besar, namun keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

"Kita punya tema yang berbeda, di Bandung kita fokus pada urban transport dan urban planning. Sedangkan di Surabaya kita lebih melihat aspek ketahanan dan juga perencanaan kota. Karena berbeda, maka kita harus memberikan support yang berbeda kepada dua kota tersebut," jelasnya.

Tidak jauh berbeda, di Inggris pun kata Owen memiliki permasalahan serupa, seperti di Kota London dan Manchester di mana pertumbuhan yang sangat cepat harus dibarengi dengan pemenuhan teknologi urban transport dan tata kota yang baik.

"Karena di dua kota itu permasalahannya sama yaitu pertumbuhan yang sangat cepat, makanya butuh adaptasi pengembangan teknologi urban transport dan juga masalah kualitas udara (air quality) dan energi yang bersih. Semua itu tantangan yang kita hadapi di masa lalu. Saya pikir kota di London dan Manchester memiliki masalah yang sama," tuturnya.

"Dan kita ingin ingin share pengalaman tersebut dengan bandung dan Surabaya," tambahnya.

Di tempat yang sama,Yana Mulyana menyambut baik rencana kolaborasi ini. Menurutnya, Kota Bandung memang selama ini sedang menggodok solusi urban transport yang terintegrasi.

"Kami atas nama Pemerintah Kota Bandung mengucapkan terimakasih kepada pemerintah Inggris yang memilih Kota Bandung sebagai salah satu pilot project pengembangan kerjasama integrasi sistem transportasi massal," kata Yana.

Ia optimis dengan segala bentuk kolaborasi dengan kota lain akan memperkaya pilihan Pemerintah Kota Bandung dalam membuat kebijakan tertkait tata kota dan sistem integrasi urban transport.

Terlebih pertumbuhan ekonomi dan juga populasi warga di Kota Bandung sudah seharusnya menerapkan sistem transportasi yang terintegrasi.

"Dengan sistem yang dikembangkan oleh pemerintah Inggris kita tahu misalkan kita diam di satu shalter dan menuju ke satu tujuan dengan aplikasi, kita bisa tahu dari shalter kita saat ini mau ke titik tujuan itu kira-kira berapa lama dan pakai apa. Nanti yang akan datang itu transportasi masal nya berapa menit lagi dan kapasitas nya masih kosong apa tidak," ujarnya.

Melalui program ini diharapkan akan mengintegrasikan sejumlah transportasi masal, seperti LRT, bus, angkutan umum dan lainnya. Sehingga masyarakat semakin mudah memilih transportasi massal yang mau digunakan.

"Kita baru punya TMB, baru lima koridor. Sebetulnya, kalau transportasi massal khususnya bus banyak koridor, semakin terintegrasi dan orang pasti akan pindah. Karena kalau baru satu koridor orang itu belum (mau), tapi kalau terkoneksi dan banyak koridor mudah-mudahan (pindah), apa lagi ini terintergrasi dengan transportasi masal lain," pungkasnya. (K34)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pemkot bandung

Editor : Ajijah
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top