Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Deteksi Dini Kanker Kolorektal, si Pembunuh Senyap

Kanker telah menjadi penyebab nomor satu kematian di negara-negara maju, menggeser penyakit jantung berdasarkan hasil dua survei global terhadap tren kesehatan yang dilaksanakan selama satu dekade.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  14:02 WIB
Konferensi pers pemaparan mengenai kanker kolorektal - Bisnis/Dea Andriyawan
Konferensi pers pemaparan mengenai kanker kolorektal - Bisnis/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG -- Kanker telah menjadi penyebab nomor satu kematian di negara-negara maju, menggeser penyakit jantung berdasarkan hasil dua survei global terhadap tren kesehatan yang dilaksanakan selama satu dekade.

Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal medis The Lancet (2019), kanker di negara-negara maju kini membunuh lebih banyak orang ketimbang penyakit jantung.

Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel secara tidak terkendali yang memiliki kemampuan untuk menyusup dan merusak sel-sel sehat di dalam tubuh.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kanker menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak setelah jantung dan stroke. Prevalensi penderita kanker di Indonesia adalah 1,4% dengan jumlah total 347.792 penderita.

Sementara itu, di Jawa Barat, masyarakat yang menderita penyakit kanker bertambah banyak dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir.

Data dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada 2017 menyebut, sebanyak 21 dari 100.000 orang di Jawa Barat diprediksi menderita penyakit kanker.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2018, kanker payudara menjadi yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia (16,7%), lalu diikuti oleh kanker serviks (9,3%), paru (8,6%), kolorektal (8,6%), dan hati (5,3%).

Di antara sejumlah kasus kanker itu, kanker kolorektal adalah yang paling tidak banyak diketahui masyarakat umum. Gejalanya yang tersamar dengan penyakit lain yang lebih umum diduga menjadi penyebab mengapa utama kanker kolorektal tak banyak diketahui.

Oleh karena itu, Parkway Cancer Center (PCC) menggelar sosialisasi terkait potensi dan juga pencegahan bahaya kanker kolorektal.

Manager CanHOPE Bandung, Rismayanti menuturkan, kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon), atau pada bagian paling bawah dari usus besar yang terhubung ke anus (rektum). Kanker ini juga dikenal dengan sebutan kanker kolon atau kanker rektum, tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker.

"Gejala kanker kolorektal seringkali dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah berkembang jauh. Pada Survei Globocan 2018, kanker kolorektal adalah kanker nomor dua paling banyak diidap oleh pria setelah kanker paru di Indonesia," kata Rismayanti saat konferensi pers di Kawasan Belanja Paskal, Kota Bandung, Kamis (30/1/2020).

Namun di Singapura, kanker kolorektal dideteksi merupakan kanker yang paling umum ditemukan pada perempuan.
Kebanyakan kanker kolorektal bermula dari polip usus atau jaringan yang tumbuh di dinding dalam kolon atau rektum.

"Namun, tidak semua polip akan berkembang menjadi kanker kolorektal. Kemungkinan polip berubah menjadi kanker juga tergantung kepada jenis polip itu sendiri," jelasnya.

Menurutnya, seperti kanker pada umumnya, kanker kolorektal sulit dideteksi pada tahap dini karena gejalanya yang tak banyak dirasakan. Pada tahap awal perkembangannya, kanker kolorektal mungkin tidak menyebabkan gejala apapun.

Ketika kanker dalam usus ini tumbuh atau menyebar, gejala-gejala yang dirasakan lebih bervariasi sesuai dengan ukuran dan lokasi kanker. Gejala umum adalah munculnya darah dalam tinja, kebiasaan buang air besar yang berubah-ubah, rasa sakit yang terus-menerus di perut, kembung atau kram, perasaan buang air besar tidak dikosongkan sepenuhnya, dan tiba-tiba penurunan berat badan yang drastis.

Dalam penanganannya, kanker kolorektal sebenarnya dapat didiagnosis melalui skrining, salah satunya dengan pemeriksaan tinja ataupun kolonoskopi. Kolonoskopi melibatkan penggunaan tabung tipis dan fleksibel yang dikenal dengan nama kolonoskop.

"Alat itu dimasukkan melalui dubur sehingga memungkinkan dokter untuk memeriksa lapisan dalam usus besar. Biasanya dilakukan dengan sedasi ringan, kolonoskopi membutuhkan waktu sekitar 15 menit; polip jinak dapat dihilangkan selama proses," ungkap dia.

Dia menuturkan, sebenarnya kanker ini bisa dicegah lebih dini, salah satunya dengan menjaga pola hidup dan pola makan dengan baik.

"Pesan penting yang diberikan untuk kanker kolorektal adalah sangat memperhatikan gaya hidup," jelas dia.

Pasalnya, sejumlah makanan ditenggarai menjadi penyebab utama dari tumbuhnya sel kanker kolorektal. Seperti, terlalu banyak mengonsumsi daging merah, makanan tinggi lemak, makanan yang dibakar terlalu gosong, serta makanan cepat saji.

Ia meminta masyarakat untuk mengenali gejala kanker kolorektal lebih dini walaupun mungkin akan tersamarkan oleh gejala yang sama seperti gejala pada ambeien dan magh.

"Namun yang paling jelas itu kalau kita sudah mengalami buang air besa berdarah, maka segera periksakan ke dokter agar didiagnosa lebih jauh," jelas dia.

Dengan demikian, maka pertumbuhan kanker akan bisa dihambat dan dokter pasti melakukan penanganan lebih jauh untuk mengangkat atau menghilangkan kanker tersebut.(k34)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kanker
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top