Lewat Vlog, Tersangka Meikarta Beberkan Kejanggalan

Meski sudah resmi ditahan pihak KPK, tersangka dugaan suap Meikarta, Bartholomeus Toto tiba-tiba muncul dalam vlog yang ditayangkan oleh akun atas namanya sendiri di Youtube.
Wisnu Wage Pamungkas
Wisnu Wage Pamungkas - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  13:47 WIB

Bisnis.com, BANDUNG—Meski sudah resmi ditahan pihak KPK, tersangka dugaan suap Meikarta, Bartholomeus Toto tiba-tiba muncul dalam vlog yang ditayangkan oleh akun atas namanya sendiri di Youtube.

Kemunculan vlog ini menjadi rangkain aksi pembelaan Toto setelah sebelumnya mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Ketiga video yang sudah sejak sepekan diunggah tersebut diberi judul berbeda-beda sesuai curhatan Bartholomeus Toto. Diantaranya, video pertama berjudul Toto dan Meikarta, video kedua babak baru kasus Meikarta episode rekayasa dan ketiga, bedah kasus kenapa saya ditersangkakan.

Dalam video pertama, Toto dan Meikarta dia menjelaskan alasan mengapa dirinya terus dikaitkan dengan Meikarta.

"Saya mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang. Jika dicari di Google nama saya, maka akan terkait Meikarta bahwa saya terlibat memberi suap pada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasi‎n terkait izin IPPT," katanya dalam video yang bisnis simak, Selasa (3/12/2019).

Toto juga menjelaskan mengapa dirinya membuat video tersebut. Satu diantaranya alasan nama baik keluarganya dan resiko bekerja dalam dunia investasi di Indonesia.

"Alasan pertama agar anak-anak dan keluarga besar kerabat serta teman-teman saya dapat tahu fakta yang terjadi dan prinsip yang saya yakini. ‎Agar teman-teman profesional eksekutif bisa tahu resiko yang terjadi saat bekerja dan berinvestasi di Indonesia. Last not least, nama baik almarhum orang tua saya," paparnya.

Dalam video tersebut, Toto juga meyakinkan bahwa dirinya tidak pernah memberikan uang 10,5 miliar pada Neneng Hasanah Yasin via Kepala Divisi Land Acusition Permit PT Lippo Cikarang, Edy Dwi Soesianto.

Di persidangan pada tanggal 14 Januari 2019, Edy menyebut ia menerima uang dari Melda Peni Lestari selaku sekretaris direksi PT Lippo Cikarang uang Rp 10,5 M sepengetahuan Toto.

Uang itu setelah sebelumnya, diminta ajudan Neneng yang meminta imbalan atas pengurusan IPPT. Atas uang itu pun Neneng sudah divonis bersalah dalam kasus suap Meikarta.

"Sebagai perusahaan publik yang keuangannya diaudit dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mana mungkin saya keluarkan uang tidak resmi sebesar itu. Saya juga tidak punya otoritas untuk menganggarkan uang di luar yang sudah dianggarkan," paparnya.

Berdasarkan ilmu perbankan yang ia miliki, dirinya menganalisa soal keberadaan uang Rp 10,5 M yang disebutkan diberikan Melda Peni Lestari, sekretaris Direksi PT Lippo Cikarang. Uang diberikan di helipad ke Edy atas sepengetahuan Toto.

"Saya akan pakai analisa follow the money. Uang Rp 10,5 M itu besar, tidak ada asal usul soal uang. Padahal kalau dicari tahu, untuk ambil di bank Rp 500 juta saja harus ada KTP. Belum tentu bank bisa keluarkan uang Rp 10,5 M. Kalau dicicil, ambil senilai itu perlu 20 kali bolak balik ke bank," katanya.

Padahal kata dia, fakta soal uang suap itu sebesar Rp 1,5 m saat KPK operasi tangkap tangan terhadap Taryudi dan Neneng Rahmi.
"Jadi sumber uang Rp 10,5 M itu dari mana," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
meikarta

Editor : Ajijah
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top