Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tantangan Permodalan & Peran Penting Inkubator Bisnis Bagi Startup Digital

Peran inkubator bisnis untuk menggodok para technopreneur atau startup digital, tak dapat dipungkiri memiliki peran penting. Inkubator bisnis dari perguruan tinggi atau inisiatif pihak lainnya saat ini juga banyak diminati startup di Bandung.
Coworking Space untuk para startup digital di LPIK ITB/Bisnis-Agne
Coworking Space untuk para startup digital di LPIK ITB/Bisnis-Agne

Bisnis.com, BANDUNG - Peran inkubator bisnis untuk menggodok para technopreneur atau startup digital, tak dapat dipungkiri memiliki peran penting. Inkubator bisnis dari perguruan tinggi atau inisiatif pihak lainnya saat ini juga banyak diminati startup di Bandung.

Sejak 3 tahun lalu, Institut Teknologi Bandung melalui Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) mulai menggodok khusus para technopreneur agar memiliki bekal pengetahuan bisnis dan mengembangkan bisnis berbasis teknologinya.

Ketua LPIK ITB Suhono Harso Supangkat mengungkapkan Bandung memiliki potensi besar dengan adanya perguruan tinggi yang ikut mengembangkan para teknopreneur ini. Terdapat beberapa aspek yang memengaruhi kesuksesan startup digital untuk berkembang yakni logistik, akses, aktor, networking baik di nasional maupun internasional serta investasi atau permodalan.

“Bandung cukup baik ekosistemnya tapi memang ekosistem yang baik ini harus juga ada investasi yang jor-joran. Sekarang dapat dilihat dari e-commerce, Gojek, nilai investasinya triliunan. Ini yang harus diwaspadai sehingga bisa tumbuh. Untuk bisa mengembangkan atau scale up ini butuh modal yang tidak sedikit, butuh investasi besar,” ujar Suhono kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Program inkubator bisnis dan industri serta pengembangan kewirausahaan dengan basis inovasi teknologi di LPIK ITB ini cukup banyak diminati namun ada proses seleksi yang dilakukan. Data LPIK per Januari 2017, total terdapat 76 startup tenant dengan total pendanaan yang dikumpulkan mencapai Rp24,8 miliar.

Di saat antusiasme dan keinginan sudah mulai tinggi di kalangan startup digital Bandung ini, Suhono mengatakan rintangan yang dihadapi terkait model bisnis, ekosistem yang lebih luas lagi, dan modal bisnis. Menurutnya, potensi pasar digital yang besar juga harus dilengkapi regulasi agar dapat menjadi startup yang kompetitif dan menjadi seperti Silicon Valley dengan kekuatan lokal Indonesia.

“Masih butuh banyak waktu dan tantangannya berat,” ujar Suhono.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif Fadjar Hutomo mengatakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk ekosistem startup ini terkait permodalan, pemerintah memberikan insentif agar ada skema permodalan lain yaitu dengan memberikan insentif perpajakan bagi pemilik modal sebagai angel investor yang masuk ke modal ventura.

Menurutnya dengan adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 35 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura ini diyakini dapat mendorong dan menggairahkan dana masyarakat untuk mendanai usaha startup dan usaha kreatif.

Mitra Lokal Gerakan 1000 Startup Digital yang juga menerapkan progam Inkubasi bagi para startup yakni Kolaborasi.co juga terus menyebarkan virus dan bergerilya dari bawah untuk menguatkan bibit potensi startup dari Bandung.

Chief Enabler Officer Kolaborasi.co Adryan Hafizh mengatakan faktor pendiri atau sumber daya manusia menjadi sangat penting ketika memulai startup agar memiliki misi yang jelas agar bisa menghadapi berbagai rintangan.

“Silicon Valley lahir dari San Fransisco yang merupakan Kota Pelajar dan itu Bandung. Tetapi kita tidak dapat meniru Silicon Valley, kita harus mengetahui apa potensi lokal Indonesia bukan hanya meniru teknologi saja karena di Silicon Valley itu sudah dimulai sejak lama,” katanya.

Jika Sillicon Valley butuh berpuluh tahun hingga menemukan momentum kebangkitan melalui bisnis teknologinya, kapan di Indonesia mulai bertransformasi dengan kekuatan lokalnya di bidang teknologi?
 
Salah satu Tokoh Indonesia yang juga Ahli Ekonomi Emil Salim pernah berucap perjuangan generasi muda saat ini adalah untuk menguasai teknologi karena penguasa teknologi akan menguasai dunia. (K5)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper