Pemprov Jabar Gandeng KPK Perkuat Tata Kelola Keuangan dan Pengawasan Internal

Pemprov Jawa Barat menggandeng KPK untuk memperkuat kualitas tata kelola keuangan daerah, pengawasan internal, hingga sistem pelayanan publik berbasis digital.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan konsolidasi dilakukan bersama Direktorat Gratifikasi KPK dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) guna memastikan sistem pemerintahan berjalan lebih akuntabel dan efektif./Istimewa
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan konsolidasi dilakukan bersama Direktorat Gratifikasi KPK dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) guna memastikan sistem pemerintahan berjalan lebih akuntabel dan efektif./Istimewa
Executive Brief
  • Pemprov Jabar bekerjasama dengan KPK untuk memperkuat tata kelola keuangan, pengawasan internal, dan pelayanan publik berbasis digital.
  • Fokus utama pembenahan adalah digitalisasi pelayanan publik, pengadaan barang dan jasa yang akuntabel, serta peningkatan maturitas Sistem Pengawasan Internal Pemerintah (SPIP).
  • Transparansi dalam penyusunan anggaran dilakukan secara terbuka, meskipun ada penurunan anggaran dari pusat, Pemprov Jabar tetap berkomitmen menjaga kualitas pembangunan daerah.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memperkuat kualitas tata kelola keuangan daerah, pengawasan internal, hingga sistem pelayanan publik berbasis digital.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan konsolidasi dilakukan bersama Direktorat Gratifikasi KPK dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) guna memastikan sistem pemerintahan berjalan lebih akuntabel dan efektif.

“Kemarin kami bersama Direktur Gratifikasi KPK dan lintas OPD melakukan konsolidasi bagaimana pengendalian gratifikasi di Pemprov Jabar dan 27 kabupaten/kota bisa optimal,” ujar Herman, Rabu (20/5/2026).

Selain pengendalian gratifikasi, Pemprov Jabar bersama KPK juga mengevaluasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) agar mampu mendorong kualitas pengelolaan keuangan daerah.

Menurut Herman, digitalisasi pelayanan publik, pengadaan barang dan jasa, hingga pengawasan internal pemerintah menjadi fokus utama pembenahan tata kelola di Jawa Barat.

“Pengadaan barang dan jasa tentu harus akuntabel, demikian juga sistem pengawasan internal pemerintah. Kami berikhtiar kebaikan itu harus dibackup oleh sistem dan tata kelola yang baik,” katanya.

Pihaknya mengungkapkan, salah satu target yang ingin dicapai Pemprov Jabar pada 2026 adalah meningkatkan maturitas Sistem Pengawasan Internal Pemerintah (SPIP) dari level tiga menjadi level empat.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kualitas hasil pekerjaan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, bukan sekadar capaian administratif.

“Dari sisi angka mungkin bagus, tapi orientasinya harus ke outcome, benefit, dan impact. Jangan sampai administrasinya bagus tetapi hasil pekerjaannya tidak berkualitas,” ujarnya.

Di sektor pelayanan publik, Herman menegaskan digitalisasi bukan satu-satunya solusi pelayanan kepada masyarakat. Menurutnya, pelayanan manual tetap diperlukan agar masyarakat tetap mendapatkan pendekatan yang humanis.

“Digitalisasi itu salah satu tools saja. Jangan berpikir dengan digitalisasi semua urusan selesai. Faktanya kita harus multichannel, digitalisasi yes, manual juga yes,” katanya.

Ia juga memaparkan sejumlah indikator pengelolaan keuangan daerah Jawa Barat yang dinilai cukup baik, mulai dari konsistensi perencanaan dan penganggaran, pemenuhan mandatory spending, hingga tingkat transparansi anggaran.

Bahkan, Sekda Jabar menegaskan jika seluruh proses penyusunan APBD Jawa Barat dilakukan secara terbuka dan disiarkan langsung.

“Transparansi sampai penyusunan anggaran di-live-kan bersama Pak Gubernur, sampai gemetaran kita,” ungkapnya.

Di tengah situasi fiskal yang tengah mengalami dinamika, sejauh ini, Pemprov Jabar mencatat tingkat kemandirian fiskal sebesar 63% dengan total APBD mencapai Rp31 triliun, di mana sekitar Rp19 triliun berasal dari pendapatan asli daerah (PAD).

Meski sempat mengalami penurunan anggaran sekitar Rp2,4 triliun dari pemerintah pusat, Herman menegaskan Pemprov Jabar tetap berkomitmen menjaga kualitas pembangunan daerah.

“Kami ingin membuktikan walaupun duitnya berkurang, pembangunan tetap kami dorong,” tuturnya.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Herdiyan
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro