Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kedisiplinan Warga Bandung Terapkan Protokol Kesehatan Turun

Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung, Oded M. Danial menginstruksikan agar penegakan sanksi terhadap pelanggaran di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) lebih gencar. Pasalnya, tingkat kedisilinan warga terhadap protokol kesehatan semakin menurun.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 16 November 2020  |  15:08 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG - Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung, Oded M. Danial menginstruksikan agar penegakan sanksi terhadap pelanggaran di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) lebih gencar. Pasalnya, tingkat kedisilinan warga terhadap protokol kesehatan semakin menurun.

Meski terkendali, Oded mengingatkan, pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Oleh karenanya, penerapan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan 1T (tidak berkerumun) harus menjadi sebuah budaya baru dalam rangka menjaga aspek kesehatan.

“Tingkat kepatuhan warga terhadap Perwal AKB terus menurun setiap periodenya. Berdasarkan data dari aplikasi pemantauan lapangan kepatuhan warga dari periode 1 ke periode 2 mengalami penurunan sebesar 2,08 persen,” ucap Oded, Senin (16/11/2020).

Oded mengungkapkan, tingkat kedisiplinan warga terhadap protokol kesehatan semakin menurun saat memasuki periode ketiga.

“Perkembangan Covid-19 di Kota Bandung hari ini saya garisbawahi sesungguhnya karena degradasi kedisiplinan. Di samping akan terus meningkatkan implementasi sanksi, kita juga mengimbau agar warga lebih disiplin. Saya ingatkan pandemi Covid-19 belum berakhir,” tegasnya.

Dalam Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 52 tahun 2020 perihal AKB, Oded menyatakan, beragam petunjuk operasional selama pandemi tertera jelas. Tanpa terkecuali, penerapan sanksi terhadap para pelanggar. Mulai dari sanksi sosial sampai adminstrasi berupa denda.

“Memang kelihatannya masyarakat sudah seperti jenuh, seperti tidak ada lagi Covid-19. Ini persoalan. Padahal angka menunjukan masih ada pergerakan,” ujarnya.

Untuk total rapid test (RDT) ini sudah mencapai 1,60 persen atau 48.118 orang. Untuk Swab PCR sebanyak 1,37 persen atau sebanyak 41.202 orang.

Sementara itu, okupansi tempat tidur di rumah sakit untuk kasus Covid masih tersedia.

“Tempat tidur ini kita ada peluang tambahan di RSKIA bisa sampai 36 tempat tidur dan 60 tempat tidur di rumah sakit lainnya di Kota Bandung. Jadi total ada peluang untuk bisa menambah 96 tempat tidur," jelasnya.

“Untuk yang OTG, kita sediakan isolasi di beberapa hotel. Kita sedang mengupayakan penambahan dan sudah ada beberapa hotel yang siap."

"Jumlah keterisian dari yang sudah ada sekarang sebanyak 64,58 persen. Kita masih memiliki ruang yang cukup. Semoga tidak ada lagi yang mengisi tempat isolasi ini,” harap Oded.

Demi menjaga aspek kesehatan namun tetap mendorong bangkitnya sektor ekonomi, Oded pun sudah menugaskan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengevaluasi sejumlah relaksasi yang sudah digulirkan selama AKB.

Hingga saat ini, belum ada temuan kasus dari relaksasi sektor ekonomi. Namun Oded tidak ingin kecolongan. Lantaran hal itu bisa berdampak pada pengetatan kembali.

“Saya sudah usulkan lebih banyak mengevaluasi relaksasi yang sudah ada. Karena kita khawatir,” katanya. (K34)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemkot bandung
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top