Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kisah Yudi, Akhirnya Bisa Operasi Ablasi Berkat JKN-KIS

Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yudi Priatna (53) sering mengalami jantung berdebar.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 28 Oktober 2020  |  11:23 WIB
Yudi Priatna
Yudi Priatna

Bisnis.com, BANDUNG -- Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yudi Priatna (53) sering mengalami jantung berdebar.

Namun kondisi tersebut hilang sendiri dan tidak mengganggu aktivitas. Seiring berjalan waktu dan bertambah usia, Yudi kembali merasakan detak jantungnya cepat dan tidak teratur, hal itu kembali ia rasakan sejak sejak Maret 2020.

Dikarenakan intensitasnya semakin sering, Yudi memutuskan untuk berobat ke Klinik Pratama Cibolerang Sehat. Kala itu, Yudi merasakan jantungnya berdebar seharian tak henti. Memperhatikan kondisi tersebut, Yudi akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

“Setelah dirujuk ke rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan lengkap, saya semakin kaget karena dokter menyatakan harus dilakukan operasi. Sempat bertanya-tanya, apakah tindakan tersebut memang diperlukan mengingat saya tidak mengalami sakit selain jantung berdebar. Setelah mendapat penjelasan dari dokter spesialis jantung, saya paham bahwa tidak dapat dibiarkan dan setuju untuk dilakukan tindakan ablasi,” cerita Yudi dalam rilis BPJS Kesehatan yang diterima Bisnis, Rabu (28/10/2020).

Ablasi merupakan suatu tindakan operasi untuk mengatasi gangguan irama jantung atau aritmia. Operasi ablasi atau ablasi kateter merupakan prosedur bedah yang menggunakan energi frekuensi radio untuk menghancurkan area kecil jaringan jantung yang menyebabkan detak jantung cepat dan tidak teratur.

“Saya dioperasi ablasi itu pada tanggal 29 September 2020, dirawat inap di rumah sakit selama dua hari. Operasi berjalan lancar, tidak seseram yang saya bayangkan. Operasi yang dijalankan juga sesuai jadwal dan tidak ada kendala apapun asal memenuhi prosedur. Jika melihat metode operasi yang dilakukan dengan peralatan canggih, pasti biaya yang dibutuhkan sangat mahal. Alhamdulillah, saat ini kondisi saya lebih nyaman saat beraktivitas, bahkan terasa sehat. Saya sudah coba naik sepeda ke Tahura,” tutur Yudi.

Selain menceritakan pengalamannya saat ditolong JKN-KIS, Yudi juga tak segan berbagi cerita anggota keluarga yang lain. Dari mulai orang tuanya, keponakan, hingga anaknya sendiri telah dibantu berkali-kali oleh Program JKN-KIS.

“Ini bukan pengalaman pertama, orang tua yaitu bapak saya juga menderita jantung sedangkan ibu mengidap kanker. Semua pengobatan orang tua ditanggung sepenuhnya oleh JKN. Jadi sudah tidak kaget lagi dengan manfaat JKN sangat besar untuk keluarga kami. Selain orang tua, keponakan juga pernah operasi lambung dan usus buntu. Anak juga dirawat karena demam berdarah dan amandel. Tidak terhitung lagi manfaat JKN-KIS,” ungkapnya.

Yudi menceritakan, awalnya ia mengikuti Program JKN-KIS dengan niat ibadah. Siapa sangka, ia dibantu oleh peserta JKN-KIS yang sehat dan rutin membayar iuran. Menurutnya, program ini luar biasa karena menjamin masyarakat kurang mampu melalui segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang preminya dibayarkan oleh pemerintah. (k34)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BPJS Kesehatan
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top