Jawa Barat - Bisnis.com
Jum'at, 24 Mei 2019
header atas

Lahan Tebu Menyusut, RNI Tunda Revitalisasi Pabrik Di Jabar

Wisnu Wage Sabtu, 20/04/2019 10:47 WIB
Lahan Tebu Menyusut, RNI Tunda Revitalisasi Pabrik di Jabar
Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia Didik Prasetyo / Wisnu Wage

Bisnis.com, BANDUNG - PT Rajawali Nusantara Indonesia tahun ini akan lebih memprioritaskan revutalisasi pabrik gula yang ada di Jawa Timur. Adapun pabrik yang ada di Jawa Barat hanya dilakukan perawatan.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia Didik Prasetyo mengatakan, perusahaan pelat merah itu menahan diri untuk merevitalisasi pabrik gula di Jawa Barat mengingat kondisi lahan tebu masioh menyusut.

"Di Cirebon, Indramayu, dan Majalengka saat ini lahan tebu tinggal 600 hektar. Rencana revitalisasi kami di Jawa Barat hanya mempertahankan kehandalan pabrik saja," kata dia, kemarin.

Kondisi ini berbeda dengan sentra RNI di Madiun dan Malang, Jawa Timur yang ditopang tingginya kesadaran petani dalam menanam tebu. Karena itu, revitalisasi akan diarahkan guna mendongkrak kapasitas produksi. “Di Madiun coba pemantapan kapasitas, biasanya kapasitas 6.000 ton yang terpakai kemarin hanya 5.000 ton,” tuturnya.

Perseroan tahun ini menargetkan mampu memproduksi gula sebanyak 32.000 ton, naik dibandingkan produksi tahun lalu yang mencapai 27.100 ton. Penambahan dilakukan mengingat pihaknya melihat sejumlah persoalan yang muncul pada tahun lalu sudah mulai teratasi.

“Tahun kemarin ada persoalan gangguan lahan semoga tahun ini kita bisa atasi. Kedua harga gula cukup rendah, yang menyebabkan minat petani kurang,” papar Didik.

Meski tidak ada rencana revitalisasi, PT RNI tetap akan mendorong agar penambahan lahan tebu di wilayah Jawa Barat masih bisa terus dilakukan melalui Gerakan Menanam Tebu. “Kita canangkan dan inginnya seluas-luasnya, jadi diharapkan produksi bertambah,” ujarnya.

Sejauh ini, RNI menguasai sekitar 50.000 hektar lahan tebu gabungan dari aset perusahaan dan tebu rakyat. Namun perluasan dan penambahan produksi menurutnya tetap bergantung pada kondisi pasar yang masih belum kondusif bagi industri gula. “Gula sekarang di angka Rp9.500/kg, ini tergantung kebijakan pemerintah,” katanya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah paling mempengaruhi industri gula dalam negeri salah satunya adalah kebijakan impor gula yang cukup besar pada tahun lalu. “Harapannya impor tetap ada tapi sesuai kebutuhan,” katanya.

Baru-baru ini, Kementerian Pertanian mengusulakn agar harga produksi di tingkat petani mencapai Rp10.500. Namun pihaknya melihat hal ini harus disesuaikan dengan kondisi konsumen. “Karena pemerintah mematok harga gula itu Rp12.500,” katanya.