Jawa Barat - Bisnis.com
Jum'at, 17 Agustus 2018

Kasus Umrah SBL: Saksi Akui Dapat Ganti Rugi & Sepakati Klausul Tidak Saling Menuntut

Dea Andriyawan Selasa, 24/07/2018 15:58 WIB
Kasus Umrah SBL: Saksi Akui Dapat Ganti Rugi & Sepakati Klausul Tidak Saling Menuntut
Sidang lanjutan kasus umrah SBL
Bisnis/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG — Sidang lanjutan kasus penggelapan dana ratusan miliar rupiah dari ribuan calon jemaah umrah yang dilakukan PT Solusi Balad Lumampah (SBL) kembali digelar di Pengadilan Negeri, Kota Bandung, Selasa (24/7).

Kali ini, Sidang yang dipimpin hakim Judijanto itu beragendakan mendengarkan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Saksi yang dihadirkan berjumlah tiga orang yang merupakan nasabah dari PT SBL.

Terdakwa Yakni Aom Juang Wibowo Sastra Ningrat dan Eri Ramdhani (marketing) hadir di persidangan dengan mengenakan rompi tahanan.

Berdasarkan pengamatan Bisnis.com, sidang berlangsung hampir 2 jam, dengan mendengarkan keterangan tiga saksi, yakni Enjang, Danny dan Abdul Gani.

Hakim menanyakan sejumlah pertanyaan kepada saksi terkait proses transfer dana, jadwal keberangkatan umrah, hingga itikad baik dari SBL saat ketiganya tidak diberangkatkan umrah.

Saksi satu, yakni Enjang mengatakan dirinya berdasarkan jadwal seharusnya sudah diberangkatkan umrah pada Desember 2017 lalu. Namun ia tidak diberangkatkan hingga akhirnya pada 15 Mei 2018 pihaknya mendapatkan ganti rugi seutuhnya dengan klausul saling memaafkan dan tidak saling menuntut.

“Tanggal 15 Mei 2018 saya dapat ganti rugi seutuhnya,” kata saksi Enjang.

Sementara itu, saksi Abdul Gani mengatakan dirinya pun seharusnya sudah berangkat pada Desember 2017 lalu. Namun Abdul tidak mendapatkan ganti rugi sepeser pun seperti yang didapat saksi lainnya.

“Belum dapat ganti rugi,” kata dia.

Menurut Jaksa Penuntut Umum, Hary Somantri mengatakan pada sidang ke tiga yang akan digelar pada Kamis (26/7), saksi lainnya akan kembali dipanggil untuk didengar kesaksiannya.

“Kita baru sidang agenda pemeriksaan saksi-saksi, jadi memang saksi-saksinya banyak, jadi kita memang hari ini panggil enam (saksi), tapi yang hadir cuma tiga, mudah-mudahan yang dipanggil itu hadir semua. Termasuk ditambah yang baru,” katanya.

Ia mengatakan, meskipun ada sejumlah saksi yang mengaku telah diberikan ganti rugi akibat tidak diberangkatkan umrah oleh SBL, namun hal tersebut nanti akan menjadi pertimbangan hakim saja.

“Itu kan salah satu itikad baik dari terdakwa untuk memberangkatkan, tidak menjadi apa-ap buat kita, yang jelas perbuatan terdakwa sudah jelas (melanggar),” kata dia.

Menurutnya, kedua terdakwa diancam dengan hukuman 20 tahun penjara dikarenakan jaksa menilai perbuatan kedua terdakwa melanggar pasal berlapis yaitu pasal 372, pasal 378 KUHpidana tentang penipuan dan penggelapan.

Selain itu, terdakwa juga dikenakan pasal 3 UU RI No 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Jaksa penuntut umum menjelaskan, terdakwa Aom dan Eri dianggap telah melakukan tindak pidana penipuan dengan cara menawarkan paket umrah yang menggiurkan. Yaitu melalui sistem multi level marketing, tabungan dan down payment (DP) murah.