Jawa Barat - Bisnis.com
Jum'at, 17 Agustus 2018

India Cabut Pajak Kontroversial Untuk Pembalut Wanita

Newswire Senin, 23/07/2018 11:45 WIB
India Cabut Pajak Kontroversial untuk Pembalut Wanita
Ilustrasi
Reuters

Bisnis.com, NEW DELHI - India mencabut pajak kontroversial 12 persen untuk pembalut wanita menyusul kampanye vokal pimpinan para aktivis dan bintang Bollywood untuk meningkatkan pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Pengumuman Sabtu itu merupakan bagian dari serangkaian perubahan kebijakan pajak barang dan jasa (GST) nasional yang ditujukan mengurangi harga sekitar 90 barang konsumsi utama, banyak di antaranya menyasar kelas menengah perkotaan menjelang pemilihan umum tahun depan.

"Menurut saya semua perempuan akan senang mengetahui bahwa pembalut wanita kini 100 persen bebas pajak. Tidak akan ada GST untuk pembalut wanita," kata pelaksana tugas menteri keuangan India Piyush Goyal kepada wartawan, Sabtu.

Aktivis, aktor Bollywood dan beberapa politikus menentang pengenaan pajak 12 persen itu, menyebut kurangnya akses dan keterjangkauan terhadap produk kebersihan utama sebagai penghalang utama bagi pemberdayaan perempuan di negara tersebut.

"Satu di antara hari-hari ketika satu berita membawa air mata bahagia karena keinginan yang dekat dengan hati kita terpenuhi," kata Akshay Kumar, satu bintang populer Bollywood, di Twitter.

"Terima kasih...karena memahami kebutuhan kebersihan menstrual dan membebaskan pembalut wanita dari pajak. Saya yakin puluhan juta perempuan di negara kita diam-diam menyampaikan terima kasih..," ia menambahkan.

Sebuah laporan survei nasional yang dirilis awal tahun ini menyebutkan sekitar 60 persen perempuan muda berusia antara 16 hingga 24 tahun tidak memiliki akses terhadap pembalut wanita. Dan angkanya bisa sampai 80 persen di negara-negara bagian India yang lebih miskin di tengah dan timur.

Laporan dalam beberapa tahun terakhir mengaitkan tidak adanya infrastruktur dasar seperti toilet di sekolah-sekolah pemerintah India di luar pusat kota besar dan kurangnya akses terhadap pembalut, dengan tingkat putus sekolah yang lebih tinggi di kalangan perempuan, demikian siaran kantor berita AFP.