Jawa Barat - Bisnis.com
Senin, 25 Juni 2018

Dedi Mulyadi Jadi Objek Penelitian Warga Australia

Wisnu Wage Rabu, 06/06/2018 09:27 WIB
Dedi Mulyadi Jadi Objek Penelitian Warga Australia

Bisnis.com, PURWAKARTA - Seorang peneliti asal Australia, Eve Warburton menjadikan pemikiran mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sebagai objek penelitian. Eve, begitu dia disapa, merupakan seorang peneliti dari Autralian National University. 
 
Secara khusus, wanita berambut pendek itu terbang dari Australia menuju Indonesia, tepatnya Purwakarta. Dia bermaksud menggali pemikiran tentang politik kebudayaan dari Calon Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut. 
 
Eve mengetahui sosok Dedi Mulyadi dari pemberitaan media di Australia. Senin (4/6/2018) dia berhasil tiba di kediaman Dedi Mulyadi. Tepatnya, di Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta. 
 
“Tidak banyak tokoh politik Indonesia yang menjadi bahan pemberitaan media Australia. Salah satu yang sering diberitakan itu Dedi Mulyadi. Saya penasaran terhadap sosoknya, karena itu saya jadikan pemikirannya sebagai objek penelitian,” katanya dalam rilis Selasa (5/6/2018) malam.
 
Pemikiran kader Nahdlatul Ulama tersebut berhasil dibedah oleh jurnalis yang bekerja di  salah satu media Singapura itu. Eve mendapatkan banyak hal tentang sisi lain jalan politik kebudayaan yang ditempuh Dedi Mulyadi. 
 
“Selama ini, politik dipahami sebagai cara meraih kekuasaan an sich. Menurut saya, itu tidak sepenuhnya benar. Politik itu membangun interaksi sosial pemimpin dengan masyarakat. Selama ini saya ada di jalan itu,” kata Dedi Mulyadi. 
 
Metoda kampanye yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi selama 20 tahun terakhir menjadi politisi memang terbilang unik. Diakuinya, tidak pernah satu kali pun terlontar ajakan untuk memilih dirinya selama masa kampanye. Dia hanya menunjukan akhlak dan karakter yang seharusnya dimiliki pemimpin. 
 
“Saya ‘gempungan’ (berkumpul) saja dengan masyarakat. Itu kan kebudayaan, ada interaksi yang terbangun. Sehingga, perjalanan ini bukan beban bagi saya, ini pengabdian untuk rakyat,” ucapnya. 
 
Pesan Kebudayaan Dedi Mulyadi 
 
Alih-alih menggunakan atribut sebagai media sosialisasi, Dedi Mulyadi memilih media lain. Seni, sastra dan instrumen kebudayaan menjadi media kampanye pria dengan iket Sunda itu selama ini. 
 
“Karena itu, konklusi yang didapat oleh rakyat bukan pesan politik. Tetapi pesan kebudayaan, pesan kemanusiaan. Saya kira itu jauh lebih holistik dibanding politik yang terlalu sektoral,” katanya. 
 
Menurut Dedi, pesan kebudayaan merupakan ruh ideologi kebangsaan yakni Pancasila. Sebagaimana diketahui, ideologi Negara Indonesia itu lahir dari proses kontemplatif pemahaman terhadap karakter kebangsaan. 
 
“Proses ini berwatak ideologi bukan pragmatisme politik. Ideologi kita apa? Pancasila, ok kita berpijak pada ideologi itu. Sehingga, tidak ada ruang di Nusantara ini yang tidak ada nilai Pancasila. Orientasi kita keadilan sosial.” Tuturnya.