Jawa Barat - Bisnis.com
Minggu, 21 Oktober 2018

Inflasi Jabar Mei 2018 Lebih Tinggi Dari Nasional

Dea Andriyawan Senin, 04/06/2018 14:37 WIB
Inflasi Jabar Mei 2018 Lebih Tinggi dari Nasional
Ilustrasi
Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat pada Mei 2018, Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,28%, lebih tinggi dari inflasi nasional yang mencapai 0,21%.

Namun data yang meliputi tujuh kota, yakni Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kota Tasikmalaya ini, dinilai merupakan angka inflasi paling rendah bila dibandingkan dua Ramadan terakhir.

"Ini kabar baik bukan hanya untuk pemerintah, tapi juga masyarakat secara umum dan secara khusus masyarakat Bandung, inflasinya boleh dikata relatif terkendali, karena di 2017 kalau bulan puasa (inflasi) itu 0,40 an persen, bahkan dua tahun kebelakang mencapai 0,70 an persen," kata Kepala BPS Jawa Barat, Dody Herlando di Kantor BPS Jabar, Senin (4/6).

Menurutnya meskipun angka inflasi Jabar lebih tinggi dibanding angka nasional, justru menunjukkan bahwa kinerja pemerintah dalam upaya stabilisasi harga di pasar pada Ramadan ini cukup sukses. Sehingga inflasi relatif terkendali.

"Jadi 0,2 persen itu sesuatu gambaran yang menunjukan bahwa pemerintah sudah bekerja dan tentu saja kerja sama yang baik antara pengusaha," katanya.

Dari tujuh kelompok pengeluaran seluruhnya mengalami inflasi, yakni kelompok bahan makanan sebesar 0,86%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,20%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,02%, kelompok sandang sebesar 0,40%, kelompok kesehatan sebesar 0,33%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,00% dan kelompok trasnpor, komunikasi dan keuangan sebesar 0,09%.

Begitupun dengan tujuh kota pantauan, seluruhnya mengalami inflasi, yaitu Kota Bogor sebesar 0,04%, Kota Sukabumi 0,19%, Kota Bandung 0,22%, Kota Cirebon 0,16%, Kota Bekasi 0,55%, Kota Depok 0,13%, dan Kota Tasikmalaya 0,42%.

Kenaikan bahan makanan pada 15 hari Ramadan ini, terjadi di harga daging ayam ras, telur dan bawang merah. Namun, kenaikan harga bahan makanan tersebut masih relatif rendah atau wajar.

"Bahkan kita mengalami deflasi di beras dan bawang putih," katanya.

Untuk 15 hari selanjutnya di Ramadan, juga menyambut libur panjang Idulfitri 1439 H, pihaknya mengingatkan terkait tren kenaikan harga bagi beberapa komoditas bahan makanan dan kelompok pengeluaran lain yang memungkinkan menyebabkan keniakan inflasi.

"Ini yang menurut saya yang perlu di maintenance untuk 15 hari kedepan, karena biasanya suka ada tren masalah (harga) daging sapi dan transportasi," pungkasnya.