Jawa Barat - Bisnis.com
Jum'at, 25 Mei 2018

Dedi Mulyadi: Pemimpin Visioner Harus Miliki Formula Tangani Terorisme

Wisnu Wage Jum'at, 11/05/2018 16:31 WIB
Dedi Mulyadi: Pemimpin Visioner Harus Miliki Formula Tangani Terorisme
Dedi Mulyadi

Bisnis.com,PURWAKARTA--Insiden kerusuhan di Markas Komando Brimob, Depok, Jawa Barat telah menginsyafi berbagai pihak untuk menelaah kembali formula penanganan terorisme.

Apalagi, insiden yang melibatkan aparat Negara dengan terpidana kasus terorisme itu terjadi di wilayah teritorial yang seharusnya dikuasai Negara.

Fenomena ini turut mengundang sumbang gagasan dari calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Menurut dia, seorang pemimpin visioner harus memiliki formula komprehensif penyelesaian kasus terorisme.

Aspek komprehensif tersebut meliputi upaya preventif, penanggulangan aksi, dan pemulihan pasca kejadian. Dedi Mulyadi menjelaskan seluruh aspek tersebut.

“Saya kira ini visi ke depan. Kita menyesalkan kejadian tersebut dan tidak boleh terjadi lagi di masa mendatang,” katanya, Jumat (11/5/2018).

Mantan Bupati Purwakarta yang sukses menjalankan program deradikalisasi melalui sekolah ideologi itu mengatakan kejahatan ideologi harus ditangani secara ideologis pula. Radikalisme sebagai bunga terorisme menurut dia harus dikikis habis sejak dalam pikiran.

“Ideologi harus dilawan dengan ideologi agar posisinya sepadan. Artinya, upaya yang dilakukan tidak bisa bersifat sporadis. Radikalisme tidak boleh ada bahkan dalam pikiran setiap anak bangsa Indonesia,” ucapnya.

Karena itu, Koordinator Presidium KAHMI Jawa Barat itu melihat sisi penting upaya preventif. Informasi intelejen menurut dia penting dijadikan salah satu referensi penindakan oleh petugas berwajib.

“Terorisme itu sudah menjadi kejahatan bahkan saat sebelum dilakukan. Informasi-informasi terkait kejadian sebelum aksi, menjadi penting di sini. Tentu saja, tindakan-tindakan yang dilakukan harus berdasarkan aturan perundangan,” jelasnya.

Ruang tahanan untuk tersangka atau terpidana kasus terorisme pun harus dipisahkan dengan ruang tahanan pidana umum. Gunanya, agar mereka tidak dapat melakukan infiltrasi ideologi radikal kepada tahanan lain.

“Menyatukan berarti membuat ruang mereka semakin terbuka untuk melakukan infiltasi. Karena itu, harus dipisahkan,” katanya.

Kembali Pada Kultur Keindonesiaan

Basis nilai dan kultur keindonesiaan menurut kader Nahdlatul Ulama itu harus menjadi pijakan utama dalam ikhtiar deradikalisasi. Didalamnya, imbuh Dedi, terdapat penguatan paham ideologi kebangsaan yang terdiri dari sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Sebagai Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi merupakan sosok yang menaruh perhatian besar terhadap poin ini.

“Kita berkeyakinan bahwa ideologi Pancasila itu sudah final sebagai ideologi Negara. Itu identitas bangsa Indonesia yang menjadikan kita terhormat di mata dunia,” tegasnya.

Selain value (nilai) dan kultur, mantan terpidana kasus terorisme menurut Dedi Mulyadi harus diberikan ladang ekonomi yang layak. Ditambah, pendekatan psikologis dan sosiologis agar mereka kembali berasimilasi dengan masyarakat umum.

“Kalau kita biarkan mereka terasing dan berada dalam kesulitan ekonomi, besar kemungkinan mereka akan kembali kepada kelompoknya,” katanya.

Kesenjangan sosial dan ekonomi menurutnya menjadi salah satu penyebab kuat yang mendorong seseorang terjerembab dalam kasus terorisme. Dedi Mulyadi melihat, pemerataan pembangunan mutlak harus dilakukan untuk memenuhi rasa keadilan di tengah masyarakat luas.

“Pemerataan pembangunan itu bisa mengikis kesenjangan di seluruh wilayah. Pancasila lahir sebagai solusi masalah, bukan lagi sekedar diskursus. Ini nilai ajaran kita,” ucapnya.

Terakhir, Dedi Mulyadi menyampaikan bela sungkawa mendalam atas meninggalnya 5 orang petugas di Markas Komando Brimob. Dia berkomitmen untuk mendukung langkah-langkah pihak kepolisian dalam menangani kasus terorisme di Indonesia.

“Tidak boleh lagi ada kekerasan dalam bentuk apapun dan dengan alasan apapun,” pungkasnya.

Apps Bisnis.com available on: